Lestari Moerdijat, Anggota DPR RI Sekaligus Wakil Ketua MPR RI yang menjadi salah seorang penyintas Kanker Payudara. (Foto: Dok. Instagram Lestari Moerdijat/@lestarimoerdijat)
Lestari Moerdijat, Anggota DPR RI Sekaligus Wakil Ketua MPR RI yang menjadi salah seorang penyintas Kanker Payudara. (Foto: Dok. Instagram Lestari Moerdijat/@lestarimoerdijat)

Kisah Lestari Moerdijat dalam Melawan Kanker Payudara

Rona kanker payudara
Raka Lestari • 14 Juli 2020 06:00
Jakarta: Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang paling ditakuti oleh para wanita. Mengingat gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini cenderung tidak spesifik.
 
Hal ini membuat banyak kasus keterlambatan diagnosis sehingga menyebabkan kanker payudara yang dialami sudah berada pada stadium lanjut.
 
Padahal sebenarnya jika kanker payudara ini bisa dideteksi lebih dini maka angka harapan hidup pasien yang mengalaminya bisa meningkat. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satunya adalah cerita dari Lestari Moerdijat, Anggota DPR RI Sekaligus Wakil Ketua MPR RI yang menjadi salah seorang penyintas Kanker Payudara. 

Terdeteksi secara tidak sengaja

“Saya itu ketahuan kanker tidak sengaja. Bisa dibilang saya itu termasuk lalai, pada usia 50 tahun baru ingat kalau belum melakukan pemeriksaan mammogram. Padahal sebenarnya perempuan-perempuan yang sudah berusia diatas 45 tahun dan memiliki riwayat keturunan kanker, harus cepat melakukan pemeriksaaan,” tutur wanita berusia 52 tahun ini.
 
Ia menceritakan pada suatu hari, dirinya ‘kejedut’ pintu dan mengenai dada sebelah kiri. “Waktu itu dada sebelah kiri saya biru, dan mencoba menggunakan minyak-minyak biasa untuk mengobatinya. Tetapi karena waktu itu ingat belum mammogram, jadilah saya mammogram,” ujarnya.
 
Pada saat pemeriksaan mammogram itulah, diketahui bahwa ada kanker di dada sebelah kanannya dan dokter mengatakan harus diangkat secepat mungkin.
 
“Itu terjadi pada tahun 2016 dan dokter bilang harus secepat mungkin diangkat,” tutur Ibu Rerie, panggilan akrabnya.
 
“Kemudian langsung diputuskan pada tanggal 6 Desember untuk melakukan operasi pengangkatan. Dan pada saat melakukan operasi, saya hanya ditemani oleh anak laki-laki saya yang nomor dua.”
 

(Sharing Session Dengan CISC Tanggal 11 Juli 2020, @cancerclubcisc mengadakan sharing session bersama para Sahabat Penderita dan Penyintas Kanker, dipandu Mbak @shahnaz.haque. Video: Dok. Instagram Lestari Moerdijat/@lestarimoerdijat)
 
Tema yang diangkat adalah "Semangatku Semangatmu Mengalahkan Kanker Payudara, Jelang Kenormalan Baru Covid-19."

Kekuatan mental menjadi kunci melawan kanker 

Setelah melakukan operasi, Ibu Rerie tetap harus melakukan beberapa rangkaian pengobatan kanker payudaranya tersebut.
 
“Pada waktu itu dokter mengatakan kalau tidak dilakukan pengobatan lanjutan, chance hidup hanya 5 tahun tetapi kalau melakukan pengobatan lanjutan kemungkinan bisa sampai 15 tahun,” ujarnya.
 
Akhirnya ia melakukan total 6 kali kemoterapi, 25 kali terapi radiasi, dan 18 kali terapi target.
 
“Dalam melakukan pengobatan, godaan memang banyak terutama yang menyarankan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kalau saya, saya tetap terima tapi jangan main-main. Selesaikan pengobatan medis terlebih dahulu,” tutur Ibu Rerie.
 
“Menurut saya, kita jangan berhenti melakukan kegiatan tetapi harus bisa mengukur kekuatan badan kita dan tahu kapan harus berhenti," ungkap Ibu Rerie.
 
"Lupakan takut badan gemuk, dan yang lainnya karena yang penting adalah makan sehat. Dan satu lagi yang paling penting nyaman buat kita. Tidak perlu mempedulikan orang lain. Nikmati saja, itu kuncinya,” tutur Ibu Rerie.

Pesan dalam mencari support system 

Menurut Ibu Rerie, memiliki support system yang baik sangatlah penting. “Peran support system sangat luar biasa. Kita sebagai penderita, terutama pas pengobatan harus mencari orang-orang yang bisa selalu mendukung kita,”katanya.
 
“Kita juga tetap bisa bermain atau bersosialisasi ketika sedang sehat. Lakukan kegiatan sehari-hari karena hidup kita tetap harus ada tujuan. ”
 
“Saya juga selalu menyampaikan bahwa kanker tidak bisa membunuh harapan, membunuh cinta, dan masa depan," tegas Ibu Rerie.
 
"Kita harus berdamai, berdamai dengan kematian. Allah sudah menuliskan, pada saatnya kita akan kembali ke jalannya masing-masing. Kalau sakit pasti sakit, tetapi kita bisa mengukur kekuatan diri sendiri,” tutup Ibu Rerie.

 

(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif