Alasan Kenapa Banyak Makan Saat Stres
Survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) menemukan bahwa hampir 40 persen orang dewasa makan junk food sebagai respons terhadap stres. (Foto: Vlad Deep/Unsplash.com)
Jakarta: Mengalami stres dapat berdampak buruk bagi tubuh, dan cara orang-orang mengatasinya bisa sama tidak sehatnya.

Dan dari survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) menemukan bahwa hampir 40 persen orang dewasa melaporkan makan terlalu banyak atau mengonsumsi junk food sebagai respons terhadap stres yang mereka alami. 

"Orang mencari kenyamanan melalui makanan baik untuk alasan fisiologis maupun psikologis. Hormon kortisol meningkat ketika mengalami stres kronis dan dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan," kata ahli diet terdaftar Allison Knott.


"Ini bisa membuat diri Anda sering merasa lapar karena produksi kortisol yang memengaruhi nafsu makan Anda," katanya. 

Dan seringkali, makanan juga digunakan sebagai "strategi mati rasa," kata Amanda Baten, seorang nutritional psychologist. 

"Makan banyak dianggap sebagai strategi pengalih perhatian, sama halnya dengan mengalihkannya kepada alkohol atau obat-obatan terlarang, seks, atau televisi, sebagai sumber kekuatan antara diri mereka dengan situasi sulit yang dialami."


("Orang mencari kenyamanan melalui makanan baik untuk alasan fisiologis maupun psikologis. Hormon kortisol meningkat ketika mengalami stres kronis dan dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan," kata ahli diet terdaftar Allison Knott. Foto: Guillaume Bolduc/Unsplash.com)

(Baca juga: Mikro Stres Dapat Memengaruhi Kesehatan Mental Anda?)

Makanan juga dapat memicu beberapa reaksi neurologis yang sama seperti yang dilakukan obat-obatan, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. 

"Penelitian pencitraan otak telah menunjukkan bahwa ketika orang-orang mengonsumsi karbohidrat dan gula, itu benar-benar dapat mengaktifkan pusat kesenangan otak," kata Baten. 

Penelitian telah menunjukkan bahwa gula, sama seperti heroin atau kokain, dapat menyebabkan perasaan senang seperti zat kimia dopamin yang  membanjiri nucleus accumbens, bagian otak yang bertanggung jawab atas kesenangan dan penghargaan. 

Sama seperti narkoba dan alkohol, makan terlalu banyak ketika stres juga perlu diatasi, kata Baten. Penting untuk memahami perbedaan antara rasa lapar emosional dan fisik. Jika Anda memang benar-benar lapar secara fisik, biasanya disertai dengan gejala fisik seperti perut yang berbunyi, energi yang berkurang, dan sakit kepala.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id