Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan atau laki-laki. Dan tindakan pelecehan seksual yang dialami orang dewasa bisa bikin mereka mendapatkan efek traumatis. (Foto: Pexels.com)
Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan atau laki-laki. Dan tindakan pelecehan seksual yang dialami orang dewasa bisa bikin mereka mendapatkan efek traumatis. (Foto: Pexels.com)

Beragam Respons Korban Menghadapi Pelaku Pelecehan Seksual

Rona pelecehan seksual psikologi
Dhaifurrakhman Abas • 13 Juni 2019 17:09
Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan atau laki-laki. Merujuk pada Komnas Perempuan, pelecehan seksual adalah tindakan seksual melalui sentuhan fisik maupun non-fisik yang mengincar organ seks dan seksualitas korban. Tindakan ini termasuk siulan, main mata, ucapan, isyarat seksual, serta tindakan fisik bernuansa seksual lainnya yang mengancam kesehatan dan keselamatan korban.
 

 
Jakarta: Pelecehan seksual merupakan salah satu fenomena sosial yang marak ditemukan di Indonesia. Secara umum tindakan ini sering menimpa perempuan dan anak sebagai korbannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski begitu, menurut temuan yang dilakukan Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Efnie Indrianie, M. Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bukan berarti orang dewasa kebal dari tindakan tidak menyenangkan itu. Bahkan tindakan pelecehan seksual yang dialami orang dewasa bisa bikin mereka mendapatkan efek traumatis.
 
"Siapapun yang menjadi korbannya pasti akan merasakan duka yang mendalam sampai memberikan efek traumatis," kata Efnie, ketika berbincang dengan Medcom.id, Rabu 11 Juni 2019.
 
Efnie juga menyebutkan, efek traumatis terjadi karena otak korban telah mengingat kejadian pelecehan seksual yang menimpa mereka ke dalam otak. Memori ini tersimpan dalam bagian amigdala otak, yang memang berfungsi sebagai penampung kenangan.
 
"Perilaku tidak menyenangkan ini bisa memengaruhi sistem amigdala otak korban. Akibatnya, korban memiliki emosi negatif yang terkumpul setiap kali mengingat kejadian yang menimpa mereka," ungkap dia.
 
Selain menampung ingatan, amigdala juga berfungsi menggerakan tubuh menjadi respons ketika dihadapkan pada situasi tertentu. Dalam kasus pelecehan seksual, amigdala membuat korban melakukan tiga tindakan terhadap pelaku.
 
"Yaitu Flight, Fight, Freeze Respons," ujarnya.
 
Beragam Respons Korban Menghadapi Pelaku Pelecehan Seksual
("Siapapun yang menjadi korban pelecehan seksual pasti akan merasakan duka yang mendalam sampai memberikan efek traumatis," ujar Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Efnie Indrianie, M. Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Foto: Pexels.com)

Beberapa respons
 
1. Flight response

Dalam hal ini, flight response membuat korbannya melarikan diri ketika menghadapi situasi pelecehan seksual yang menimpa mereka. Amigdala berperan memerintahkan tubuh korban untuk berlari.

2. Fight response

Sementara itu, amigdala juga bisa membuat tubuh mengeluarkan Fight Response. Ini yang menyebabkan mengapa ada orang yang berani melawan ketika berhadapan dengan pelaku.

3. Freeze response

Sedangkan Freeze response, merupakan tindakan tanpa berbuat apa-apa. Tindakan pelecehan seksual yang dilakukan pelaku membuat tubuh seolah menjadi kaku dan membuat pikiran korban mendadak kosong.
 
"Reaksi emosi negatif ini bisa ditunjukkan oleh korban secara berlebihan dan kehilangan kendali logika," ungkap Efnie.
 
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tiga respons amigdala mungkin bisa menentukan keselamatan korban atau tidak. Meski begitu, menurut Efnie, efek traumatis dari kejadian pelecehan seksual tersebut haruslah segera dipulihkan.

Menetralkan emosi

Adapun efek traumatis yang dialami korban bisa dipulihkan melalu psikoterapi. Terapi ini, kata Efnie, bukan untuk menghilangkan kenangan tidak menyenangkan yang dialami korban, melainkan dilakukan agar korban dapat menetralkan emosi negatif yang mereka miliki.
 
"Inti yang dilakukan dalam psikoterapi bukan dengan menghilangkan memori kejadian tersebut. Akan tetapi, dilakukan adalah dengan menetralkan emosi negatif yang menyertai memori tersebut," sambungnya.
 
Adapun lamanya proses terapi ini bervariasi pada tiap orang. Efnie bilang, proses psikoterapi bisa berlangsung dalam beberapa bulan hingga mencapai lebih dari satu tahun.
 
"Terapi ini haruslah dilakukan oleh ahlinya (terapis) agar prosedur dilakukan dengan tepat," ujarnya.
 
Dia juga menyarankan agar kerabat dan masyarakat turut mendukung korban dalam melakukan proses psikoterapi dengan memberikan dukungan moril. Sebab dukungan yang diberikan mampu mempercepat proses psikoterapi yang dijalankan korban.
 
"Misalnya dengan melibatkan aspek spiritual tergadap korban yaitu berdoa, ibadah, dan meditasi seperti berjalan di pagi hari,” tandasnya.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif