NEWSTICKER
Konon, penyakit bisa berasal dari pikiran, contohnya kambuhnya asma dan depresi bisa teratasi dengan merilekskan pikiran. (Ilustrasi/Pexels)
Konon, penyakit bisa berasal dari pikiran, contohnya kambuhnya asma dan depresi bisa teratasi dengan merilekskan pikiran. (Ilustrasi/Pexels)

Benarkah Pikiran Sebabkan Penyakit?

Rona tips kesehatan
Sunnaholomi Halakrispen • 08 Januari 2020 07:02
Jakarta: Konon, penyakit bisa berasal dari pikiran, contohnya kambuhnya asma dan depresi bisa teratasi dengan merilekskan pikiran. Namun, ketenangan pikiran apakah berlaku untuk semua penyakit?
 
Secara ilmu psikologi, tidak semua penyakit berasal dari pikiran atau tergantung dari kondisi psikologis masing-masing individu. Hal ini disampaikan oleh Jane Cindy, M.Psi, Psi. selaku psikolog di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya
 
"Saat individu sedang mengalami stres atau tertekan, atau kondisi seperti psikosomatis, maka simtom-simtom sakit fisik bisa dirasakan. Meskipun tidak ada kondisi medis yang menyertai," ujar Jane kepada Medcom.id, Selasa, 7 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Simtom adalah keadaan khusus kondisi tubuh yang menunjukkan tanda adanya suatu penyakit atau biasa disebut dengan gejala penyakt. Jane menjelaskan, simtom tersebut seperti ketika munculnya penyakit murni yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu.
 
"Bukan karena faktor psikologis. Tentu terapi farmakologi atau medikasi yang paling utama dibutuhkan. Namun, dapat dibantu dengan menjaga suasana hati (mood) dan pikiran positif agar proses penyembuhan dapat berlangsung dengan lebih optimal," paparnya.
 
Emosi dan pikiran bisa memengaruhi kondisi fisik manusia. Ada sejumlah simtom tersebut, di antaranya sakit kepala, mual, nyeri perut, nyeri pada badan. Ia menekankan,hal itu terjadi jika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan tidak baik.
 
"Tidak ada penyakit medis khusus yang pasti akan berpengaruh pada emosi dan pikiran. Namun penyakit-penyakit yang cukup severe seperti kanker, tumor, dan sebagainya tentu bisa turut memengaruhi kondisi psikologis seseorang," pungkasnya.
 
Orang yang mengidap penyakit terminal umumnya rentan merasa cemas, berpikiran negatif, dan sebagainya. Akan Tetapi, kembali lagi pada kondisi psikologis tiap orang yang berbeda-beda, maka reaksinya pun berbeda bagi masing-masing individu.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif