Ilustrasi--patah hati--pexels
Ilustrasi--patah hati--pexels

Patah Hati bisa Pengaruhi Kanker?

Rona kanker
Sunnaholomi Halakrispen • 22 Juli 2019 10:58
Sindrom patah hati atau broken heart syndrome ternyata membahayakan. Sebuah studi menemukan bahwa satu dari enam orang dengan sindrom patah hati juga menderita kanker.
 

Jakarta: Patah hati bisa memengaruhi emosional dan kondisi fisik penderitanya. Bukan hanya itu. Konon, patah hati juga bisa berpengaruh menyebabkan kanker.
 
Sindrom patah hati atau broken heart syndrome dapat membahayakan lebih dari sekedar persoalan perasaan. Stres ekstrem kehilangan orang yang dicintai telah dikaitkan dengan masalah jantung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari webmd, sebuah studi menemukan bahwa satu dari enam orang dengan sindrom patah hati juga menderita kanker. Lebih buruk lagi, mereka lebih kecil kemungkinannya untuk selamat dari kanker mereka lima tahun setelah diagnosis.
 
"Tampaknya ada interaksi yang kuat antara sindrom takotsubo (sindrom patah hati) dan keganasan kanker," tutur Dr. Christian Templin selaku direktur perawatan jantung akut di Rumah Sakit Universitas Zurich di Swiss.
 
pasien sindrom takotsubo harus direkomendasikan untuk berpartisipasi dalam skrining kanker. "Untuk meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan," tambahnya.
 
Sindrom patah hati menyebabkan nyeri dada yang hebat dan sesak napas yang bisa disalahartikan sebagai serangan jantung. Menurut American Heart Association (AHA), gejala-gejala ini merupakan reaksi terhadap lonjakan tiba-tiba dalam hormon stres.
 
Kondisi itu menyebabkan ruang pompa jantung utama membesar, kata para peneliti. Dan itu berarti jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.
 
Broken heart syndrome dapat terjadi setelah hampir semua pengalaman emosional yang intens. Kematian orang yang dicintai, putus cinta atau perceraian, masalah keuangan dan bahkan pengalaman yang sangat positif seperti memenangkan lotre dapat memicu sindrom patah hati.
 
Stres fisik juga dapat memicu sindrom patah hati. Trauma fisik atau pembedahan, kegagalan pernafasan, dan infeksi, adalah contoh dari tekanan fisik yang dapat menyebabkan sindrom patah hati.
 
Salah satu studi meneliti lebih dari 1.600 orang dengan sindrom patah hati. Para peserta direkrut di 26 pusat medis di sembilan negara yang berbeda, termasuk delapan negara Eropa dan Amerika Serikat.
 
Di antara mereka yang didiagnosis menderita kanker, sebagian besar adalah wanita atau 88 persen dan usia rata-rata mereka 70 tahun. Templin menyatakan, insiden kasus kanker jauh lebih tinggi dari biasanya.
 
Hal itu berlaku untuk kedua jenis kelamin dan semua kelompok umur. Misalnya, pada wanita berusia 44 tahun dan lebih muda, tingkat kanker yang diharapkan sebesar 0,4 persen. Tetapi bagi mereka yang mengalami sindrom patah hati adalah 8 persen.
 
Pada pria berusia 45 hingga 64 tahun, tingkat kanker yang diharapkan adalah 2 persen. Tetapi pada mereka yang mengalami sindrom patah hati, jumlahnya ada 22 persen. Pada pria dan wanita yang lebih tua, kasus kanker yang diharapkan lebih dari dua kali lipat dari yang diharapkan bagi mereka yang mengalami sindrom patah hati.
 
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling umum. Kanker lainnya, yang terkena daerah termasuk sistem pencernaan, saluran pernapasan, organ seks internal, dan kulit.
 
Pada penelitian juga ditemukan bahwa orang yang juga menderita kanker lebih mungkin memiliki pemicu fisik untuk sindrom patah hati dari pada yang emosional.
 
Templin memaparkan, dari studi ini tidak jelas bagaimana tepatnya kondisi ini dihubungkan, meskipun ia mencatat bahwa stres dari diagnosis kanker dapat memicu sindrom patah hati. Mungkin juga perubahan metabolik atau hormon yang disebabkan oleh kanker dapat meningkatkan risiko sindrom patah hati.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif