Ilustrasi--Memiliki pekerjaan dapat menjadi keuntungan bagi kesehatan mental.--Pexels
Ilustrasi--Memiliki pekerjaan dapat menjadi keuntungan bagi kesehatan mental.--Pexels

Waktu Kerja Memengaruhi Kebahagiaan

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 26 Juni 2019 12:01
Berdasarkan sebuah studi, pekerja hanya membutuhkan waktu satu hari bekerja dalam seminggu. Hal itu akan dapat membawa sejumlah manfaat bagi para pekerja, seperti kurangnya konsumerisme dan lebih banyak waktu keluarga.
 

Jakarta: Memiliki pekerjaan dapat menjadi keuntungan bagi kesehatan mental. Tetapi berdasarkan sebuah studi, sebagian pekerja hanya membutuhkan satu hari kerja per minggu. Namun, satu hari bekerja dalam seminggu mungkin sulit diwujudkan.
 
Studi tersebut dilakukan terhadap lebih dari 70 ribu orang dewasa di Inggris. Ditemukan bahwa ketika orang yang menganggur menemukan pekerjaan, kesehatan mental mereka biasanya meningkat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tetapi temuan itu menunjukkan bahwa ketika memerhatikan kesehatan mental, banyak orang akan baik-baik saja bekerja kurang dari standar 40 jam. Hal tersebut dipaparkan peneliti Brendan Burchell dan Daiga Kamerade-Hanta.
 
"Hasil kami mengejutkan kami. Kami tidak menganjurkan 'lompatan' segera ke satu minggu satu hari kerja," kata Burchell seperti dikutip dari WebMD.
 
Tetapi, waktu standar kerja di masa depan  patut dipikirkan. Otomatisasi pekerjaan akan menghasilkan lebih sedikit peluang kerja. Jika setiap orang bekerja kurang dari 40 jam, itu bisa membuka lebih banyak pekerjaan.
Waktu Kerja Memengaruhi Kebahagiaan
Ilustrasi--Pexels
 
Sistem waktu kerja seperti itu, kata Burchell, dapat membawa sejumlah manfaat bagi para pekerja, seperti kurangnya konsumerisme dan lebih banyak waktu keluarga. Hal ini bisa memengaruhi kesejahteraan mental atau tingkat kebahagiaan para karyawan.
 
"Ada beberapa bukti untuk hal ini di negara-negara yang terdapat pengurangan rata-rata jam kerja selama beberapa dekade terakhir, seperti Jerman," imbuhnya.
 
Tetap saja, diakuinya bahwa orang tidak bekerja semata-mata untuk kesejahteraan mental mereka. Ada hal-hal praktis terkait kebutuhan uang, seperti membayar perumahan dan makanan serta menabung untuk biaya kuliah anak-anak mereka.
 
Akan tetapi, menurut penelitiannya, Burchell menyatakan bahwa beberapa orang mampu bekerja lebih sedikit. Mungkin terlihat seperti orang yang lebih sedikit bekerja namun dengan pendapatan dan tabungan yang lebih tinggi.
 
Sementara itu, Peneliti University of Cambridge mendasarkan temuan mereka pada data dari studi kesehatan jangka panjang lebih dari 70.000 warga Inggris. Semua disurvei setidaknya dua kali, antara 2009 dan 2018.
 
Para peserta mengisi kuesioner yang menanyakan tentang masalah-masalah seperti kecemasan, depresi, masalah tidur, dan kesulitan konsentrasi. Para peneliti menemukan bahwa ketika orang-orang itu kemudian menemukan pekerjaan yang dibayar, kesejahteraan mental mereka biasanya meningkat.
 
Tetapi rata-rata, hanya butuh satu hingga delapan jam kerja per minggu. Kemudian, di antara orang-orang yang bekerja, mereka yang bekerja kurang dari standar 37 hingga 40 jam seminggu sama sehatnya dengan orang-orang dengan jam kerja standar.
 
Mungkin memang tidak bisa membuat kesimpulan untuk setiap orang. Ada orang-orang yagn bahagia ketika kerja menghasilkan uang banyak dan mendapatakan hadiah. Di sisi lain, sebagian besar tingkat kebahagiaan orang naik ketika menjalankan pekerjaan dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan waktu kerja normal.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif