Kasus keracunan air yang parah dapat menyebabkan gejala yang lebih serius, seperti kantuk, kelemahan otot atau kram, hingga peningkatan tekanan darah.(Ilustrasi/Pexels)
Kasus keracunan air yang parah dapat menyebabkan gejala yang lebih serius, seperti kantuk, kelemahan otot atau kram, hingga peningkatan tekanan darah.(Ilustrasi/Pexels)

Minum Terlalu Banyak Dapat Menyebabkan Keracunan Air

Rona kesehatan
Sunnaholomi Halakrispen • 13 Agustus 2020 10:45
Jakarta: Setiap sel dalam tubuh membutuhkan air agar berfungsi dengan baik. Namun, minum terlalu banyak dapat menyebabkan keracunan air dan konsekuensi kesehatan yang serius.
 
Dikutip dari Medical News Today, keracunan air adalah gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh minum terlalu banyak air. Melakukannya akan meningkatkan jumlah air dalam darah. Ini bisa mengencerkan elektrolit, terutama natrium, di dalam darah.
 
Jika kadar natrium turun di bawah 135 milimol per liter (mmol / l), dokter menyebut masalah tersebut sebagai hiponatremia. Sementara itu, sodium membantu menjaga keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketika kadar natrium turun karena konsumsi air yang berlebihan, cairan mengalir dari luar ke dalam sel, menyebabkannya membengkak. Bila hal ini terjadi pada sel otak, maka bisa berbahaya dan bahkan mengancam nyawa.
 
Gejala keracunan air pun bersifat umum. Di antaranya, dapat berupa kebingungan, disorientasi, sakit kepala, mual, dan muntah. Kasus keracunan air yang parah dapat menyebabkan gejala yang lebih serius, seperti kantuk, kelemahan otot atau kram, hingga peningkatan tekanan darah. 
 
Selain itu, berisiko terjadi penglihatan ganda, ketidakmampuan untuk mengidentifikasi informasi sensorik, sulit bernapas. Dalam kasus yang jarang terjadi, keracunan air dapat menyebabkan pembengkakan di otak dan berakibat fatal.
 
Penumpukan cairan di otak disebut edema serebral. Ini dapat memengaruhi batang otak dan menyebabkan disfungsi sistem saraf pusat. Dalam kasus yang parah, keracunan air dapat menyebabkan kejang, kerusakan otak, koma, dan bahkan kematian.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif