Kebiasaan yang Merusak Kulit (Foto: shutterstock)
Kebiasaan yang Merusak Kulit (Foto: shutterstock)

Kebiasaan yang Merusak Kulit

Rona kesehatan kulit
Sunnaholomi Halakrispen • 01 Juni 2019 20:19
Jakarta: Beragam kebiasaan setiap hari bisa merusak kulit Anda, baik disadari maupun tidak sadar. Akibatnya, kulit menjadi semakin kering, terkelupas, bahkan bisa berisiko lebih parah lagi.
 
Salah satu kebiasaan yang dapat merusak kulit ialah penggunaan spoons atau busa saat mandi. Anda mungkin berpikir sedang membersihkan kotoran yang menempel di kulit.
 
Tetapi sebenarnya Anda bisa merusak keseimbangan bakteri baik di kulit Anda. Ahli kulit Whitney Bowe, MD, yang juga penulis The Beauty of Dirty Skin, menyatakan bahwa menjaga kesehatan kulit bahkan harus melindungi kulit terluar dari serangga kulit yang menempel. Sementara itu, ada serangga baik yang terdiri dari mikroba kulit.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penelitian telah menunjukkan bahwa serangga baik kita dapat mencegah infeksi, mengontrol peradangan, membantu penyembuhan luka, dan menjaga kulit terlihat lebih muda." Alih-alih pembersihan yang keras dapat menyebabkan kerusakan kulit.
 
Berikut di bahwah ini sejumlah kebiasaan lain yang berisiko merusak kesehatan kulit Anda.
 
1. Mandi air panas
 
Mungkin Anda berpikir Anda perlu mandi air panas untuk membunuh kuman atau untuk mendapatkan kehangatan dan melemaskan otot-otot Anda. Tetapi, mandi air panas bukanlah teman baik bagi kulit Anda.
 
"Mandi air panas melucuti kulit Anda dari minyak alami, mengeringkannya, dan juga berpotensi menyebabkan berkembang-biaknya serangga kulit yang tidak ramah," kata Dr. Bowe.
 
Jika ingin merasa hangat, gunakanlah air yang tidak terlalu panas atau air hangat. Ini bisa menjaga kelembaban kulit dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.
 
2. Melewatkan cuci muka
 
Menurut sebuah survei, lebih dari setengah orang yang disurvei sering tidak mencuci muka sebelum tidur, akan menyebabkan penumpukan kotoran dan sel-sel kulit tua. Terutama, jika Anda menggunakan riasan atau make up tebal.
 
American Academy of Dermatology menyarankan untuk mencuci muka setidaknya dua kali sehari dan setelah berkeringat banyak seperti setelah berolahraga. Dr. Bowe mengatakan, pastikan Anda mencuci dengan pembersih yang lembut dan melembabkan.
 
3. Minum susu bebas lemak
 
Produk bebas lemak yang menurut Anda dapat membantu menurunkan berat badan, sebenarnya dapat membahayakan kulit Anda. Sebuah studi dari Penn State menemukan hubungan antara konsumsi susu bebas lemak (tetapi bukan susu penuh lemak) dengan contoh jerawat yang lebih besar.
 
“Protein susu, whey dan kasein, dapat berdampak pada kadar insulin dan melepaskan peradangan sistemik utama. Yang penting, whey dan kasein sering ditambahkan dalam jumlah yang lebih besar ke susu skim untuk membantu mengentalkan susu bebas lemak ini," tutur Dr. Bowe.
 
Lebih baik, Anda mengonsumsi susu tanpa pemanis seperti almond, rami, rami, atau kelapa sebagai gantinya.
 
4. Menikmati diet soda
 
Pemanis buatan berkaitan dengan jerawat, diabetes, dan rosacea. Dalam seuatu penelitian, ditunjukkan bahwa pemanis dapat memengaruhi kadar insulin, meningkatkan peradangan, dan mengubah komposisi bakteri baik dalam usus Anda. Semua ini pun dapat muncul di wajah Anda.
 
"Tingkat insulin yang tinggi adalah penyebab utama ketidakseimbangan hormon dan gangguan kulit, terutama jerawat. Karena pemanis buatan membuang keseimbangan gula darah Anda, mereka juga mampu memicu masalah kulit," papar Dr. Bowe.
 
5. Minum antibiotik
 
Menurut penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS), setidaknya 30 persen antibiotik yang diresepkan di AS tidak diperlukan. Terlalu sering menggunakan antibiotik dapat membuat bakteri super tahan antibiotik dan membunuh bakteri baik di usus dan kulit kita bersama dengan yang buruk.
 
"Bakteri yang baik ini memiliki kekuatan untuk melawan bakteri yang menular dan peradangan yang merajalela yang mendasari gangguan kulit dan penyakit sistemik. Obsesi kami dengan sabun antibakteri dan pembersih tangan memperburuk masalah ini. Tentu saja, Anda memang ingin minum obat jika diperlukan," ujar Dr. Bowe.
 

 
 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif