Ekspresikan emosi kemarahan Anda namun tanpa menyalahkan orang lain. (Foto Ilustrasi: Aaron Blanco Tejedor/Unsplash)
Ekspresikan emosi kemarahan Anda namun tanpa menyalahkan orang lain. (Foto Ilustrasi: Aaron Blanco Tejedor/Unsplash)

Beberapa Alasan Munculnya Kemarahan secara Terus-menerus

Rona psikologi
Kumara Anggita • 13 Mei 2019 11:36
Kemarahan timbul karena suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif.
 
Jakarta:
Akhir-akhir ini muka Anda mudah mengerut, sesekali membentak orang di sekitar, mudah tersinggung, dan kesal terus menerus. Ingin sekali rasanya Anda menghentikannya, namun emosi itu keluar begitu saja.
 
Melansir dari Psych Central, ternyata ada beberapa alasan mengapa kemarahan ini menggerogoti diri Anda akhir-akhir ini. Secara umum, ini terjadi karena batasan yang lemah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anda mengatakan iya ketika di lubuk hati paling dalam Anda mengatakan tidak. Anda melakukan hal-hal untuk orang lain ketika Anda sesungguhnya tidak merasa nyaman melakukannya. Ini menghabiskan banyak energi Anda.
 
Secara spesifik, ini bisa disebabkan oleh kurang tidur, depresi, dan cemas. Simak penjelasannya.

-Kurang tidur

Anda mudah marah karena kurang tidur dan memiliki banyak kerjaan. “Ini jadi membuat lebih sulit untuk mengakses keterampilan koping emosional Anda,” kata Hanks.

-Depresi

Depresi tidah hanya soal bersedih, justru gejala umum depresi adalah marah yang muncul terus-menerus.
 
"Tampaknya ada kesalahpahaman bahwa depresi artinya menangis sepanjang waktu dan tidak bangun dari tempat tidur,” ujar Hanks.

-Kecemasan

Kecemasan memakan banyak tenaga karena emosi itu harus distabilkan ke normal. Ketika kecemasan sering terjadi pada Anda, memungkinkan Anda untuk lebih mudah iritasi.
 
"Individu dengan kecemasan tinggi sering merasa berada di ambang kewalahan karena mereka harus bekerja sangat keras untuk mengelola keadaan emosi internal mereka sendiri,” ujarnya.

-Hubungan

Selain itu, Psikoterapis Rebecca Wong, LCSW, melihat banyak individu dan pasangan yang marah karena masalah hubungan. Ini bisa terjadi karena ada sesuatu yang tidak tepat dilakukan oleh anak, orang tua, teman, pasangan, dan rekan kerja.
 
“Misalnya, mungkin mereka marah karena merasa tidak terlihat atau tidak peduli,” kata Wong.
 
Mungkin Anda mengharapkan pasangan Anda untuk membantu lebih banyak di sekitar rumah.
 
"Di situlah, jika tombol-tombol itu cukup ditekan, cukup sering, Anda bisa berubah menjadi kemarahan tanpa tahu sebabnya,” sambungnya.

-Pengendalian

Sadar atau tak sadar, Anda ingin segala sesuatu sesuai dengan pikiran Anda. Karena itu, Anda berusaha untuk mengendalikannya. Namun, tak dalam semua situasi pengendalian Anda bisa berjalan sukses. Karena itu, Anda jadi marah.
 
Menurut Michelle Farris, LMFT, seorang psikoterapis, kemarahan juga bermula dari keinginan untuk mengendalikan apa yang ada di luar kita.
 
Cara Memanajemen Kemarahan
 
Farris membagikan saran ini untuk mengelola kemarahan Anda secara efektif:
 
-Sadarilah tanda-tanda kemarahan awal peringatan Anda. (Yang mungkin berbeda untuk semua orang.)
 
-Ekspresikan emosi Anda tanpa menyalahkan orang lain.
 
-Rencanakan ke depan untuk menangani situasi sulit.
 
-Ambil napas dalam-dalam untuk untuk berada pada momen ini.
 
-Perhatikan pikiran negatif yang memicu kejengkelan Anda.
 
-Minta bantuan jika Anda kesulitan.
 
-Beristirahatlah ketika situasi mulai memanas. Biarkan orang itu tahu bahwa Anda ingin melanjutkan percakapan begitu Anda (atau keduanya) sudah merasa tenang.
 
Menurut Hanks, kemarahan sering kali merupakan emosi sekunder. Ini merupakan emosi yang rentan, seperti kesepian, kesedihan atau ketakutan. Dan biasanya lebih sulit untuk mengakses dan mengekspresikannya. Sekali lagi, kemarahan adalah emosi yang berharga dan vital.
 
"Mengakui perasaan marah dan menggunakan kesadaran ini untuk memahami emosi rentan yang mendasarinya adalah kunci untuk kesehatan emosional." tegas Farris.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif