Sebuah mural karya seniman Franco Rivolli Art, menggambarkan seorang perawat mengenakan masker, dengan sayap di belakang dan menggendong Italia, digambarkan di dinding Rumah Sakit Papa Giovanni XXIII di Bergamo, Lombardy. (Foto: Andreas SOLARO/AFP)
Sebuah mural karya seniman Franco Rivolli Art, menggambarkan seorang perawat mengenakan masker, dengan sayap di belakang dan menggendong Italia, digambarkan di dinding Rumah Sakit Papa Giovanni XXIII di Bergamo, Lombardy. (Foto: Andreas SOLARO/AFP)

Menengok dari Garis Terdepan Virus Korona di Italia

Rona Virus Korona virus corona covid-19
Kumara Anggita • 18 Maret 2020 14:39
Jakarta: Berbagai negara berjibaku untuk mengurangi penyebaran virus korona pada masyarakatnya. Ini dilakukan agar pasien yang terkena covid-19 tidak membeludak.
 
Cara yang digunakan beragam. Ada yang menerapkan lockdown, shutdown, self distancing, dan masih banyak lagi. Dan tentunya dari cara-cara ini, tidak ada yang memberikan kenyamanan buat kita semua. Mengingat kita adalah mahluk sosial yang perlu berinteraksi pada manusia lain.
 
Tapi coba kita bisa menengok ke negara Eropa yang paling banyak terdampak, yaitu Italia. Mau tak mau, masyarakat di sana harus merasakan lockdown dan berlanjut pada shutdown. Mereka tidak bisa berkeliaran di luar seenaknya. Tak bisa ke sekolah, ke kantor, menonton langsung Liga Italia ke stadion, keluar mencari hiburan, atau sekadar makan di luar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Orang di sana juga tak boleh berkeliaran tanpa tujuan yang jelas. Bila dilakukan, mereka akan kena sanksi. Oleh karena itu, jalanan menjadi sungguh sepi, bahkan teramat sepi. Hampir serupa dengan kota mati.
 
Di sisi lain pemandangan ironis terekam di media sosial. Sempat viral video bagaimana warga Italia ini menghibur diri mereka dengan saling bernyanyi dari balkon ke balkon.
 
Seperti data yang diambil dari The Guardian, di antara 2.503 orang yang meninggal gara-gara pandemi virus korona di Italia, pasien meninggal paling tua berusia 95 tahun dan yang termuda adalah 39 tahun. Sedangkan, lebih dari 70% dari mereka yang meninggal adalah laki-laki.

Pilah-pilih pasien

Di rumah sakit, saking banyaknya korban yang harus diatasi dan sulit untuk menangani semuanya sekaligus, dokter pun harus memilih pasien mana yang menjadi prioritas.
 
Menengok dari Garis Terdepan Virus Korona di Italia
Petugas medis yang menggunakan make-up wajah dan alat pelindung membawa pasien dengan tandu yang diduga menderita COVID-19. (Foto: Piero CRUCIATTI)
 
Sementara itu, Christian Salaroli, Dokter Kepala Unit Perawatan Intensif di Sebuah Rumah Sakit di Bergamo menyatakan pada Surat Kabar Corriere della Sera, bahwa mereka harus memilih untuk tidak melanjutkan penanganan pada mereka yang berusia 90 dan 95 tahun mengalami kesulitan pernapasan akut.
 
"Ini adalah hal yang menyedihkan namun apa daya warga Italia sedang dalam kondisi genting sehingga tak ada kemampuan untuk memilih," terang Salaroli kepada Corriere della Sera.
 
Sepasang suami istri yang meninggal terpisah dalam hitungan jam gegara virus korona. Mereka meninggal di rumah tanpa ada satu pun yang melihatnya.
 
Mirisnya, jasad istri berusia 47 tahun harus menuggu dua hari untuk rebah di peristirahatan terakhirnya. Itu terjadi karena jasa pemakaman sempat menolak menguburkan jasadnya.
 
Ada juga dokter yang harus menutup usia, setelah membantu pasien mereka yang terinfeksi.

Virus menyebar seperti api

Tercatat di antara 2.503 orang yang meninggal gara-gara pandemi virus korona di Italia, pasien meninggal paling tua berusia 95 tahun dan yang termuda adalah 39 tahun.
 
“Kenyataannya virus ini menyebar seperti api. Kematian tidak pasti, tetapi penularannya nyata,” kata Luca Franzese, yang saudara perempuannya, Teresa, 47, meninggal di rumah di Naples pada 7 Maret.
 
"Orang tua saya patah hati, mereka hancur mendengar kabar tersebut," katanya kepada Guardian.
 
Teresa, tinggal bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia, saudara perempuannya, ipar laki-lakinya, dan dua anak mereka. Teresa menderita epilepsi, namun sebaliknya kesehatannya membaik. Seminggu sebelum dia meninggal, ia justru terserang flu.
 
Menengok dari Garis Terdepan Virus Korona di Italia
Kenyataannya virus ini menyebar seperti api. Kematian tidak pasti, tetapi penularannya nyata. (Foto: AFP)
 
"Orang tua saya memanggil dokter, tetapi mereka menolak untuk datang ke rumah meskipun tahu dia cacat," kata Franzese.
 
“Dia mengalami koma pada 7 Maret, kami mencoba menelepon hotline darurat, mereka tiba setelah 40 menit. Sementara itu, saya mencoba memberikan resusitasi dari mulut ke mulut," terangnya.
 
Teresa dinyatakan positif terkena virus tersebut. Franzese berbicara tentang bagaimana frustrasi keluarganya karena 'ditinggalkan' oleh pihak berwenang setelah saudara perempuannya dibiarkan meninggal di rumah.
 
Baru setelah ia mengajukan permohonan bantuan melalui Facebook, jasa pemakaman lokal akhirnya datang untuk mengambil mayatnya. Tetapi seperti korban coronavirus lainnya, dia dimakamkan dengan cepat dan tanpa upacara demi mengurangi risiko infeksi yang ditimbulkan oleh mayatnya.
 
Sementara orang tuanya, yang punya masalah kesehatan, justru dites negatif covid-19, seperti halnya Luca dan keponakannya. Sisa dari keluarga dekat Teresa yang terdiri dari tujuh orang dinyatakan positif.

Penyakit penyerta

Silvio Brusaferro, presiden Institut Kesehatan Tinggi Italia, mengatakan pada Jumat bahwa usia rata-rata korban virus corona adalah 80,3 tahun, dengan mayoritas menderita penyakit yang mendasarinya. Masalah kesehatan tambahan yang paling umum adalah hipertensi arteri diikuti oleh penyakit jantung kronis, fibrilasi atrium, dan kanker.
 
Lebih dari 70% dari mereka yang meninggal adalah laki-laki. Dua korban berusia 39 tahun itu adalah seorang pria penderita diabetes dan seorang wanita penderita kanker. Sebagian besar kematian terjadi di wilayah Lombardy Utara (1.420 orang pada Senin malam), diikuti oleh Emilia-Romagna (346) dan Veneto (69).
 
Tetapi tidak semua orang meninggal memiliki masalah kesehatan lain, setidaknya sejauh yang diketahui. Luca Carrara kehilangan ayahnya, Luigi Carrara, 86, dan ibunya, Severa Belotti, 82, dalam beberapa jam, satu sama lain. Dia mengatakan kepada pers Italia bahwa mereka dalam keadaan sehat.
 
Baca juga: Anda Pernah Kontak dengan Pasien Positif Covid-19? Ini Saran Pemerintah
 
"Saya tidak dapat melihat orang tua saya, mereka meninggal sendirian, itulah kejamnya virus ini. Yang benar adalah ini bukan flu biasa dan jika Anda berakhir di rumah sakit, Anda bisa hidup atau mati," terang Carrara.
 
Pasangan itu tinggal di Albino, sebuah kota di Provinsi Bergamo yang terkena dampak buruk di Lombardy.
 
Alessandro, yang tinggal di Danau Garda, antara wilayah Lombardy dan Veneto, menambahkan bahwa, orang yang tidak tinggal di sini tidak menyadari betapa kejamnya virus itu.
 
"Kami mendengar ambulans setiap setengah jam sekali saat mereka membawa orang sakit ke rumah sakit. Sangat mengejutkan," jelas Alessandro.
 
“Yang mengherankan saya adalah bahwa negara-negara lain melihat hal-hal ini, tidak hanya Inggris, tetapi telah mengambil tindakan pencegahan yang terlambat. Ini yang membuat saya semakin khawatir," tutup Alessandro.

Belajar dari apa yang terjadi di Italia

Tentunya ini adalah situasi yang sebelumnya tak terbayangkan oleh warga Italia. Seandainya setiap masyarakatnya lebih sadar dan menaati peraturan untuk tidak sembarangan berkeliaran, mungkin situasi tidak akan separah ini.
 
Virus ini bisa berada di mana-mana, mulai dari tangan, pulpen, kursi, pegangan transportasi dan masih banyak lagi. Karena itu, kita jadi harus ekstra hati-hati dan tidak menyepelekan seperti yang sudah terjadi pada warga Italia.
 
Menengok dari Garis Terdepan Virus Korona di Italia
Melakukan self distancing dan tak keluar rumah seperti arahan pemerintah, bisa membuat penyebaran virus korona di Indonesia tak seperti di Italia. (Foto: Andreas SOLARO/AFP)
 
Mulailah dari untuk menerapkan self distancing atau melakukan segala upaya untuk sebisa mungkin menjaga jarak secara fisik dengan satu sama lain. Ini termasuk mengisolasi orang yang terinfeksi, melakukan karantina orang yang mungkin telah terinfeksi, dan membuat orang terpisah satu sama lain secara umum.
 
Mari bersama-sama mengikuti apa yang dikatakan pemerintah yaitu kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah dari rumah. Dengan seperti itu, penyebaran bisa diperlambat sehingga jumlah pasien covid-19 bisa tidak membeludak seperti yang terjadi di Italia sekarang.
 
Jangan sampai dokter harus memprioritaskan siapa yang perlu dirawat dan siapa yang tidak karena keterbatasan yang sesugguhnya bisa kita kontrol dari awal. Jagalah diri Anda dan orang di sekitar Anda.
 

 
(FIR)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif