Ilustrasi--Sebagian orang sulit membuang barang tidak digunakan di kamar atau di rumah karena menganggap ada setiap barang punya kenangan--Pexels
Ilustrasi--Sebagian orang sulit membuang barang tidak digunakan di kamar atau di rumah karena menganggap ada setiap barang punya kenangan--Pexels

Ingatan Pengaruhi Perilaku Menimbun Barang

Rona psikologi
Anda Nurlaila • 27 Juni 2019 15:37
Ada beberapa orang yang sulit untuk membuang barang yang sudah tak digunakan. Alasannya karena barang tersebut menyimpan kenangan tersendiri.
 

Jakarta: Sulit membersihkan dan membuang barang tidak digunakan di kamar atau di rumah karena menganggap ada setiap barang punya kenangan sendiri-sendiri? Sebuah studi menemukan, ingatan tentang objek membuat pelaku penimbun barang sulit membuang barang-barang yang sebenarnya tidak perlu.
 
Hasil penelitian terbaru oleh periset University of Bath menunjukkan perbedaan penting pada ingatan orang senang "menimbun" barang dan mereka yang tidak. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diketahui perilaku menimbun didorong hubungan emosional yang kuat dengan objek. Tetapi temuan eksperimental baru, di jurnal daring Behavior Therapy menunjukkan bahwa bagi mereka yang suka menimbun barang, koneksi ini sebagian disebabkan ingatan jelas dan positif terkait objek.
 
Bagi para penimbun, item tersebut menjadi perpanjangan memori dan menjadi penghalang untuk membuang barang yang memperburuk masalah individu. Akibatnya, kamar sangat berantakan seiring waktu sehingga tidak dapat digunakan sebagai ruang hidup yang normal dan sehat. 
 
Tim penelitian berharap terapi perilaku-kognitif (CBT) untuk perilaku menimbun dapat ditingkatkan dengan melatih individu untuk merespons secara berbeda terhadap ingatan yang muncul.
 
Menurut Royal College of Psychiatrists, penimbunan dapat menjadi masalah kesehatan mental, dikenal sebagai 'gangguan penimbunan'. Kekacauan terkait penimbunan berefek negatif pada mereka yang mengalami gangguan tersebut serta orang-orang yang berada di sekitar mereka.
 
Terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan emosional dan fisik, kesehatan dan keselamatan, dan keuangan. Risiko kebakaran terkait kekacauan juga menjadi perhatian khusus.
 
Peneliti utama dan psikolog klinis di Avon & Wiltshire Mental Health Partnership NHS Trust Nick Stewart, menjelaskan, orang yang menimbun sering ditawari terapi perilaku untuk membantu mereka memahami pikiran dan perasaan yang terkait perilaku dalam menyimpang dan mendapatkan sesuatu. 
 
Menurutnya, pendekatan ini bermanfaat bagi sebagian orang, tapi tidak semuanya. "Selama studi kami ingin memahami faktor-faktor psikologis yang mendorong perilaku penimbunan, dan bagaimana terapi penimbunan mungkin ditingkatkan," katanya, seperti dilansir Science Daily.
 
Para peneliti melakukan wawancara terstruktur dengan 27 orang dengan masalah penimbunan signifikan secara klinis, dan 28 orang kelompok 'kontrol' yang tidak memiliki masalah tersebut.
 
Peserta diminta untuk mengingat kembali kenangan dan memori yang muncul di benak mereka saat terakhir kali mereka membuang, atau mencoba membuang barang-barang di rumah.
 
Kedua kelompok melaporkan ingatan positif sambil membuang barang-barang yang mereka hargai. Termasuk ingatan tentang memperoleh benda, ingatan suatu peristiwa atau orang terkait objek tersebut. Yang terpenting, peserta kontrol melaporkan upaya menghindari citra positif ini, sedangkan peserta penimbunan tidak.
 
Stewart menjelaskan, kita bisa dibanjiri dengan ingatan positif saat memegang benda berharga. "Namun temuan kami menunjukkan cara menanggapi ingatan terkait objek ini menentukan apakah tetap mempertahankan atau membuang suatu benda," katanya. 
 
Pada kelompok kontrol,  mereka dapat menyisihkan ingatan ini sehingga memudahkan tugas membenahi dan membuang benda-benda yang tidak perlu.  Sementara para penimbun menikmati kenangan positif  sehingga menghalangi upaya mereka membuang benda-benda. 
 
Tutor Penelitian Klinis dan Psikolog Klinis di University of Bath James Gregory yang mengawasi penelitian, mengatakan terapis dapat bekerja dengan orang-orang untuk mengembangkan citra alternatif untuk 'bersaing' dengan penyebab kesulitan membuang barang. 
 
"Citra bersaing ini seperti konsekuensi positif setelah membuang barang. Misal dapat makan bersama orang-orang yang dicintai di meja makan yang bersih dari barang-barang yang tidak perlu," paparnya. 
 
Langkah selanjutnya adalah studi eksperimental lanjutan untuk  melihat apakah 'menulis ulang' kenangan bermanfaat agar orang dapat melepaskan benda lebih mudah.
 
"Walaupun ingatan terkait suatu benda memberikan rasa nyaman dan aman bagi orang yang menimbun, kekacauan yang dihasilkan dapat merampas kualitas hidup orang-orang," Gregory menambahkan. 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif