Ilustrasi. (Thinkstock)
Ilustrasi. (Thinkstock)

Infeksi Virus pada Janin Berpotensi Menyebabkan Kelumpuhan

Rona kehamilan
15 Desember 2018 16:20
Jakarta: Balita berusia tiga tahun bernama Rafy Nasution mengalami kelumpuhan sejak berusia empat bulan. Usut punya usut, Rafy mengalami infeksi virus di otak kecil saat ia masih berada dalam kandungan.

Kasus kelumpuhan Rafy akibat infeksi virus yang menyerang saat masih dalam kandungan hanya satu dari sekian banyak yang terekspos. Dokter neuropediatri RS Pusat Otak Nasional Arie Khairani mengungkap ada sejumlah virus yang berpotensi membuat bayi mengalami cacat bawaan sejak lahir. Beberapa di antaranya ialah virus torch dan rubella. 

"Ada beberapa virus yang memang terekspos sejak janin dalam kandungan dan bisa beberapa macam. Kita tidak tahu virus apa yang mengenai Rafy, tapi kalau itu yang terjadi memang menyebabkan cerebral palsy," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Newsline Metro TV, Jumat, 14 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Arie mengatakan potensi bayi terkena cerebral palsy bisa terjadi pada anak yang masih berusia di bawah dua tahun. Pada periode tersebut perkembangan otak anak begitu pesat. Infeksi virus termasuk trauma karena benturan atau perdarahan otak dapat menyebabkan seorang anak mengalami cerebral palsy. Menurut Arie, infeksi virus pada janin semestinya bisa dicegah dengan melakukan screening terutama pada trimester pertama kehamilan. Melalui screening, akan dapat diketahui apakah seorang ibu hamil mengalami infeksi virus seperti torch, toksoplasma, atau rubella. Penanganannya pun bisa dilakukan dengan segera. 

"Memang harus dilakukan di trimester pertama karena kalau tidak bisa berdampak pada anaknya yang ketika lahir kita dapatkan kecacatan, kelumpuhan, atau gangguan pada penglihatan, pendengaran, dan sebagainya," kata dia.

Selain kelumpuhan, infeksi akibat virus saat janin masih dalam kandungan adalah komplikasi organ. Bayi yang telah terinfeksi virus sejak dilahirkan memiliki risiko lebih besar mengalami kelainan jantung bawaan sampai dengan infeksi paru-paru.

"Memang cerebral palsy itu kondisi yang sangat kompleks dan perlu tata laksana multidisiplin. Tidak hanya dokter saraf tapi juga dokter anak dan neurorestorasi. Jadi memang harus di-screening bagaimana fungsi penglihatan, pendengaran, dan motoriknya," jelas dia.




(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi