Dua Gangguan Mata yang Paling Sering Dialami
Menurut dr. Rina La Distia Nora, SpM (K) dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), refraksi dan katarak adalah kerusakan visual yang paling mendominasi. (Foto: Alex Perez/Unsplash.com)
Jakarta: Mata adalah organ sensori paling penting karena 80 persen informasi didapat dari penglihatan. Dari sekian banyak gangguan mata, terdapat dua yang paling banyak dialami populasi manusia secara global.

Menurut dr. Rina La Distia Nora, SpM (K) dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), refraksi dan katarak adalah kerusakan visual yang paling mendominasi.

Refakrasi adalah suatu keadaan di mana cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan dengan jelas.


"Normalnya, sinar yang jauh dari luar dibiaskan dan difokuskan di retina. Kemudian retina menangkap dan mengirimnya ke otak," jelasnya dalam acara Pengenalan Teknologi Interlaced Optics, Selasa 30 Oktober 2018.

(Baca juga: Ini Penyebab Mata Kering pada Kalangan Muda Zaman Sekarang)


(Mata adalah organ sensori paling penting karena 80 persen informasi didapat dari penglihatan. Foto: Victorien Ameline/Unsplash.com)

Ketika cahaya yang dibiaskan tak tepat pada retina, maka terjadi refraksi. Terdapat tiga jenis refraksi, yaitu miopi (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme.

Miopia terjadi ketika cahaya yang jatuh terlalu cepat sehingga berada di depan retina. Sementara, hipermetropia sebaliknya. Ketika cahaya yang masuk miring, maka gangguan tersebut disebut astigmatisme atau silindris.

"Pengobatan refraksi adalah dengan menggunakan kacamata atau lensa kontak," pungkasnya.

Gangguan lain yang juga banyak dialami adalah katarak. Penyebabnya adalah lensa mata menjadi keruh sehingga pandangan menggelap. Dalam kondisi ini, cahaya yang masuk dari luar tidak sampai ke retina. Katarak dapat menyebabkan kebutaan.

Pengobatan yang paling umum untuk gangguan katarak adalah operasi dengan teknik phaco emulsifikasi. Ini adalah konsep pengobatan di mana lensa yang keruh diambil dan digantikan dengan lensa baru. Dengan demikian penderita dapat melihat dengan jernih kembali.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id