Stres Berpotensi Memicu Kebutaan
(Foto: The Health Site)
Jakarta: Tak hanya memengaruhi mental, stres juga dapat memperburuk kesehatan mata, yang dapat berujung pada kebutaan. Sebuah studi telah membutktikannya.

"Stres berkelanjutan dan tingkat kortisol yang meningkat memberi dampak negatif pada mata dan otak karena ketidakseimbangan sistem saraf otonom (simpatis) dan deregulasi pembuluh darah," ujar pemimpin studi Bernhard Sabel, dilansir dari The Health Site.

Ia menekankan, otak dan mata saling berkaitan. Sayangnya, hal ini sering diabaikan saat proses pengobatan dan tidak terdokumentasi dengan sistematik dalam catatan kesehatan. 


“Perilaku dan kata-kata dokter yang merawat dapat memiliki konsekuensi jangkauan jauh untuk prognosis kehilangan penglihatan. Banyak pasien diberitahu bahwa prognosisnya buruk dan bahwa mereka harus siap untuk menjadi buta suatu hari nanti," tambah peneliti lain Dr Muneeb Faiq.

Bahkan ketika ini jauh dari kepastian dan kebutaan penuh hampir tidak pernah terjadi, lanjutnya, rasa takut dan kecemasan yang muncul adalah beban ganda neurologis dan psikologis dengan konsekuensi fisiologis yang sering memperburuk kondisi penyakit.

Peningkatan tekanan intraokular, disfungsi endotel (sindrom Flammer), dan peradangan adalah beberapa konsekuensi dari stres yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Para peneliti menyarankan beberapa cara mengurangi stres dengan melakukan teknik relaksasi (misalnya, meditasi, pelatihan autogenik, pelatihan manajemen stres, dan psikoterapi untuk belajar mengatasi). Kegiatan tersebut tidak hanya sebagai pelengkap untuk perawatan tradisional kehilangan penglihatan, tetapi juga pencegahan untuk mengurangi perkembangan kehilangan penglihatan.

Kedua, dokter harus mencoba yang terbaik untuk menanamkan sikap positif dan optimis sambil memberikan pasien mereka informasi yang mereka berhak, terutama mengenai nilai penting dari pengurangan stres. Dengan cara ini, lingkaran setan bisa terputus.

Manajemen stres juga berkaitan dengan pengasuhan atau dukungan anggota keluarga untuk mempertahankan keadaan pikiran yang bebas stres, yang pada gilirannya dapat mengurangi pemicu stres.






(DEV)