Obat-obatan untuk penyintas kanker telah masuk ke Indonesia. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir ada 180 obat baru yang diapprove BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). (Ilustrasi/pexels)
Obat-obatan untuk penyintas kanker telah masuk ke Indonesia. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir ada 180 obat baru yang diapprove BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). (Ilustrasi/pexels)

Obat Kanker Masuk Indonesia, Bagaimana Efeknya?

Rona kanker
Sunnaholomi Halakrispen • 08 Februari 2020 15:40
Jakarta: Obat-obatan untuk penyintas kanker telah masuk ke Indonesia. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir ada 180 obat baru yang diapprove BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Maka, setiap tahunnya sekitar 23-34 obat yang di-approve.
 
"Obat itu sudah melalui uji klinis yang layak dan terbukti aman," ujar Prof. dr. Iwan Dwi Prahasto, M.Med,Sc, Ph.D selaku Ketua Formularium Nasional, di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat.
 
Ia memaparkan bahwa terkadang ada beberapa obat yang belum tentu di-approve oleh BPOM. Sebab, harus dipastikan terlebih dahulu apakah obat-obatan tersebut terbukti cocok atau layak untuk kondisi pasien kanker di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal tersebut berbeda dengan mekanisme uji klinis yang dilakukan oleh Indonesia dan Amerika Serikat. Di US Food and Drug Administration selaku badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, mekanismenya menyesuaikan kondisi yang terjadi.
 
"Contohnya, ada obat yang belum selesai uji klinik baru fase 2 sudah bisa dipasarkan itu kita tidak bisa, karena bisa dicabut lagi kalau efeknya tidak sesuai yang diharapkan, di Indonesia itu tidak mungkin," ujar Prof. Iwan di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat.
 
Kemudian, di Amerika Serikat sekitar 95-97 persen pasien uji klinik yang digunakan untuk obat kanker merupakan pasien Kaukasian. Maka demikian, banyak yang tidak cocok dengan kondisi orang Indonesia, dalam hal dosis terhadap pasien-pasien dengan gangguan fungsi.
 
"Di Indonesia banyak kanker yang sudah advance yang disertai komplikasi atau penyakit lain. Misalnya, diabetes miletus, gangguan liver, gangguan fungsi ginjal, dan sebagainya," paparnya.
 
Akibat hal tersebut, maka obat-obatannya dinilai tidak selalu bisa dipakai. Ia juga menekankan agar tidak mudah tergesa-gesa mengadopsi obat baru.
 
Harus hati-hati dalam pemilihan obat yang masuk ke Indonesia. Sebab, bisa saja berisiko menyebabkan penyakit lain, bahkan ada obat yang efek sampingnya menimbulkan kanker jenis lain. 
 
"Jangan tergesa-gesa mengadopsi obat baru, karena belum tentu obat itu mature studinya. Sehingga bisa saja, ketika dianukan seolah-olah dia bermanfaat, ternyata dia tidak menambah survival," tuturnya.
 
Sedangkan di Amerika, kata Prof. Iwan, kecepatannya lebih tinggi dengan sebagian besar industri obat ada di sana dan terdapat conditional approval. Artinya, apabila nantinya terbukti sesudah satu tahun tidak memberi manfaat yang diklaim, indikasi tersebut bisa dicabut. "Kita tidak bisa. Kalau sudah ada dipasaran, dicabut, gaduh dan lain sebagainya," pungkasnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif