Studi: Pria Lajang Lebih Merasa Tertekan Dibanding Wanita Lajang

Sri Yanti Nainggolan 13 Desember 2017 08:00 WIB
psikologi
Studi: Pria Lajang Lebih Merasa Tertekan Dibanding Wanita Lajang
"Ketika separuh lebih kesepian adalah alasan tak ingin menjadi lajang, status tersebut juga bisa menjadi kesempatan di mana Anda belajar mengenal diri Anda sendiri," tukas Chris Sherwood selaku chief executive Relate. (Foto: iStock)
Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa pria lajang merasakan lebih banyak tekanan dibanding wanita dengan status serupa.

Sebuah polling menemukan bahwa sekitar 71 persen pria lajang merasakan tekanan yang signifikan untuk mencari pasangan, dibandingkan dengan 58 persen wanita lajang.

Mereka juga lebih cenderung mengalami kesepian saat tak menjalin hubungan romantis, demikian menurut situs kencan eHarmony dan badan amal pendukung hubungan Relate. 


Dr Linda Papadopoulos selaku psikolog dari eHarmony menyebutkan bahwa wanita cenderung lebih kuat dalam menjalin pertemanan dibandingkan pria.

"Secara mengejutkan, pria lajang lebih merasakan tekanan dalam mencari pasangan dibandingkan wanita. Mereka juga memiliki rasa kesepian yang lebih tinggi," simpul Papadopoulos.

(Baca juga: Ini Alasan Anda Tidak Pernah Sendirian Meski Single)

Hal tersebut bertentangan dengan persepsi bahwa pria lajang lebih bisa menikmati hidupnya dibandingkan wanita lajang. 


(Walau sebuah studi menemukan bahwa pria lajang merasakan lebih banyak tekanan dibanding wanita dengan status serupa, namun kabar baiknya lajang dapat melakukan banyak hal, termasuk hobinya. Foto: Dok. Mohammad Rahmatollah)

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa pria cenderung merindukan keintiman fisik dibandingkan wanita. 

Namun, ada beberapa keuntungan dari menjadi lajang yang ditemukan, yaitu lebih merdeka secara personal, lebih banyak waktu melakukan hobi, bebas melakukan apapun, dan mencoba hubungan baru lagi. 

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 41 persen lebih baik melajang daripada bersama orang yang salah, 47 persen pria merasa kesepian adalah dampak buruk dari menjadi lajang dan 43 persen wanita beranggapan demikian. Selain itu, 77 persen orang lajang telah merasa kesepian, dan 45 persen beranggapan kesepian adalah dampak buruk dari menjadi lajang. 

"Ketika separuh lebih kesepian adalah alasan tak ingin menjadi lajang, status tersebut juga bisa menjadi kesempatan di mana Anda belajar mengenal diri Anda sendiri," tukas Chris Sherwood selaku chief executive Relate.

Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang lajang merasa malu, terutama pria, dan mengalami tekanan dalam status tersebut dan berusaha mencari pasangan. 

"Adalah penting untuk menghargai lajang sebagai pilihan gaya hidup dan tidak menghakimi seseorang berdasarkan status hubungan."











(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id