Ternyata ada alasan psikologis dari kebiasaan berhutang. Simak paparan Yulius Steven, M.Psi alasannya. (Foto: Pexels.com)
Ternyata ada alasan psikologis dari kebiasaan berhutang. Simak paparan Yulius Steven, M.Psi alasannya. (Foto: Pexels.com)

Hobi Berhutang Bisa Muncul karena Anda Cemas

Rona psikologi
Kumara Anggita • 12 Juli 2020 14:00
Jakarta: Berhutang ketika butuh sesuatu namun budget tak memadai adalah hal yang umum terjadi. Yang menjadi masalah adalah ketika berhutang ini dijadikan sebagai sebuah "hobi". 
 
Ternyata ada alasan psikologis dari kebiasaan ini. Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi dari Sahabat Kariib orang yang suka berhutang untuk hal tak penting biasanya memiliki kecemasan yang tinggi. 
 
“Di dalam diri ada konflik internal. Pressure (keinginan) terus mendorong untuk terus memenuhi keinginannya. Jadi biasanya orang-orang yang suka berhutang, mereka orang yang mudah merasa cemas,” ungkapnya saat dihubungi Medcom.id. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Orang tersebut tak bisa mengendalikan kecemasannya, emosinya jadi ya sudahlah mereka melakukan apa yang instan saja untuk memenuhi kebutuhannya saat ini,” lanjutnya. 
 
Menurutnya kecemasan ini bisa muncul karena berbagai alasan. Ini bisa terkait penghargaan dari orang lain, pengakuan, keinginan untuk bisa lebih dari orang lain, dan sebagainya.

Salah pola asuh

Ia juga menjelaskan bahwa kebiasaan berhutang tak terjadi begitu saja. “Biasanya ini terbentuk dari pola pengasuhan dari kecil yang apa-apa langsung dikasih. Misalnya mau mobil-mobilan, orang tuanya bakal langsung kasih,” ujarnya. 
 
Hal ini pun pernah terjadi pada seorang lelaki, sebut saja Arjuna. Lekaki anak pertama dari tiga bersaudara malah diberikan nasihat yang sedikit 'lucu' untuk mendatangi bank jika tak punya uang. Alhasil, ia pernah terseret hutang yang jumlahnya hampir Rp100 juta.
 
"Dari satu kartu kredit ke kartu kredit yang lain. Buka yang satu untuk menutupi yang lain. Sampai punya sekitar enam kartu kredit beberapa tahun yang lalu," ungkapnya pada Medcom.id.
 
Menurut Yulius, seharusnya dari kecil anak mulai diajarkan tentang tanggung jawab. Ini dilakukan agar mereka bisa mengikuti sebuah konsep dalam psikologi yang disebut dengan delayed gratification. 
 
“Delayed gratification adalah kepuasan yang didapat karena kita telah berhasil menunda keinginan kita. Misalnya kita nabung uang beli mobil secara cash, itu adalah salah satu contoh delayed gratification. Kita kumpulin uang dulu lalu membeli keinginan kita,” jelasnya.
 
Ia menganjurkan agar dari kecil orang bisa mengikuti syarat terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu. Dari sana, mereka akan terbiasa untuk memiliki problem solving yang tepat terhadap segala tekanan. 
 
“Mereka (orang yang hobi berhutang) mungkin toleransi stresnya rendah. Stres dikit langsung terpenuhi jadi mereka tak terlatih stres dalam jangka waktu lama. Dia cari problem solvingnya, tak mau pusing, ribet. Mau langsung instan aja (langsung berhutang),” ungkapnya. 
 
“Pada akirnya orang yang suka pakai pinjaman ini, ketika menghadapi konsekuensinya, mereka akan kesulitan menemukan jalan keluar karena dari kecil mereka tidak diajarkan untuk menemukan problem solving yang benar,” tutupnya. 
 

(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif