Tema Khusus Rona

Menghindari Riuh Ulang Tahun dengan Meliburkan Diri

Sri Yanti Nainggolan 29 Oktober 2018 16:41 WIB
psikologi
Menghindari Riuh Ulang Tahun dengan Meliburkan Diri
Beberapa orang justru memilih menghindari hari ulang tahun. Simak informasi lengkapnya. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)
Jakarta: Tak sedikit orang yang menanti-nantikan hari ulang tahun dengan selebrasi bersama orang-orang terkasih. Namun, beberapa orang justru memilih menghindari hari peringatan pertambahan usia tersebut.

Salah satunya adalah Jani (26) yang sejak bekerja, memilih untuk mengambil cuti di hari ulang tahun. Empat tahun bekerja di perusahaan media, ia mengaku selalu 'kabur' saat hari istimewa tersebut.

"Tahun ini, aku enggak ambil cuti. Tapi kabur, ke kantor sebentar, minta tolong ke teman belikan martabak untuk teman-teman, terus pergi," ujarnya pada Medcom.id.


Tahun lalu, lanjutnya, ia mengambil cuti dan berjalan-jalan ke Bogor, Jawa Barat. Seorang diri. Gadis asal Klaten tersebut pergi ke mal dan menikmati keramaian kota hujan tersebut dari siang hingga sore.

Sementara, pada tahun 2016, ulang tahunnya bertepatan dengan hari libur akhir pekan. Namun, ia tetap mendapat kejutan dari teman-teman kantor beberapa hari kemudian.

"Ya, aku pura-pura senang aja saat itu."

Ketika ditanya sejak kapan tak senang dengan ucapan dan kejutan ulang tahun, Jani sempat terdiam sejenak. "Mungkin sejak usia 17 tahun, kali, ya."

Saat itu, ia habis dikerjai hingga dibikin menangis, sebelum akhirnya teman-teman memberi ucapan selamat. Bahkan, ia dua kali dilemparkan dengan berbagai bumbu (kecap, tepung, dan bumbu yang membuat lengket) dan telor.

"Karena kotor, jadi aku bebersih dulu, pulang belakangan. Ternyata mereka sudah berkumpul di rumah kasih surprise. Tapi aku tak merasa terharu atau bagaimana."

Semasa sekolah, Jani mengaku hanya berpura-pura senang bila mendapat kejutan atau ucapan selamat dari teman-teman.

Beralih ke dunia kerja, Jani mencoba menghindari dengan tidak mencantumkan tanggal ulang tahun di media sosial. Selain tak suka, ia juga malas membalas ucapan-ucapan berisikan doa tersebut.

Baginya, pemberian ucapan selamat hanyalah tradisi belaka. Sementara, beberapa tradisi seperti dikerjain dan mentraktir teman juga tak penting.

"Aku pernah diikat di pohon dan dilempari tepung, kecap, dan telur (saat hari ulang tahun). Itu apaan sih, maknanya di mana? Cuma bikin tersiksa."

Terkait tradisi mentraktir teman-teman, ia juga tak memandangnya sebagai sesuatu yang berarti. Memang hal tersebut menjadi tradisi umum untuk sebagian besar orang, sebagai bentuk ucapan syukur pertambahan usia.

"It sucks! Kita kan tak tahu mereka (yang berulang tahun) sedang ada uang atau tidak, dan bagaimana kondisi mereka saat itu juga, apakah sedang butuh uang atau berhemat, misalnya."

Namun, Jani mengaku bahwa apa yang ia rasakan itu bisa jadi karena budaya keluarga yang tak terbiasa dengan perayaan. Perayaan adalah hal asing dalam keluarganya.

"Keluargaku memang tak suka dirayain. Bahkan orang tuaku tak punya foto pernikahan, karena memang tak dirayakan. Cukup akad ke KUA (Kantor Urusan Agama) dan pengajian."

Sementara, kakak dan dirinya tak pernah mengadakan perayaan ulang tahun sekalipun. Sang adik sempat merasakan peringatan ulang tahun dengan mengundang teman-teman di dekat rumah beberapa kali.

"Jadi, ya wajar. Ibaratnya, aku tak suka makan ikan karena terbiasa makan tempe. Ini family culture kali, ya."

(Baca juga: Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Memberi Ucapan Ulang Tahun pada Mantan Kekasih)


(Tak sedikit orang yang menanti-nantikan hari ulang tahun dengan selebrasi bersama orang-orang terkasih. Namun, beberapa orang justru memilih menghindari hari peringatan pertambahan usia tersebut. Foto: Sergei Solo/Unsplash.com)
 
Menilik psikologis saat ulang tahun

Ulang tahun identik dengan kebahagiaan karena pertambahan usia. Senang dan bersemangat adalah dua perasaan yang biasanya menyelimuti diri di hari istimewa tersebut.

"Secara umum memang orang merasa senang dan bersemangat (saat ulang tahun). Ada juga rasa syukur," tambah psikolog Ayoe Sutomo saat dihubungi Medcom.id.

Namun, bukan tak mungkin terselip aura negatif pada beberapa orang di momen tersebut, seperti yang terjadi pada Jani. Ada beberapa hal penyebabnya, seperti trauma atau pengalaman tak menyenangkan yang pernah dialami.

Ia memberi contoh, tradisi mengerjai teman yang ulang tahun, yang kerap terjadi di Indonesia. Umumnya, mengerjai adalah ekspresi perhatian atau sayang pada yang ulang tahun, dan ingin membuat momen berkesan atau tak terlupakan.

"Tetapi dalam beberapa pertemanan, bisa keterlaluan dan justru membuat yang ulang tahun kesal," pungkasnya, yang dapat membuat kebiasaan mengerjai menjadi sesuatu yang dipandang negatif oleh si empunya hajat.

Selain hal itu, kepribadian juga memengaruhi bagaimana seseorang memaknai ulang tahun. Misalnya, tipikal introvert, yang lebih nyaman dalam diam dan tenang, cenderung tak ingin heboh dalam menyambut usia baru.

"Tipe ini kemungkinan besar hanya ingin berkumpul dengan orang-orang terdekat saja saat ulang tahun," ia berasumsi.

Sama seperti pemikiran Jani, budaya keluarga juga tak bisa disepelekan dalam hal ini. Pola pengasuhan akan membentuk tradisi dalam keluarga, termasuk bagaimana jenis euforia dalam memeringati suatu hal.

"Ini biasanya terbentuk dari lingkungan sosial dan sekitar keluarga," tambahnya, yang mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut cenderung terbawa hingga dewasa.

Lalu, sebagai teman yang baik, bagaimanakah cara yang tepat untuk menyelamati teman yang tak ingin ulang tahunnya terekspos?

"Jika ia introvert, ada baiknya bertanya bagaimana membuatnya merasa nyaman. Pada prinsipya, beri perhatian lebih, seperti memberi selamat atau menghadiahi barang yang disuka. Itu pertanda bahwa Anda turut bahagia di hari ulang tahunnya."



(Terdapat beberapa hal yang justru dapat membuat perasaan negatif saat ulang tahun. Foto: Morgan Sessions/Unsplash.com)

Wajarkah bila sedih di hari ulang tahun?

Terdapat dua tipe orang di dunia, mereka yang suka perayaan ulang tahun dan sebaliknya. Tipe pertama sepertinya cukup mendominasi, tetapi tak sedikit juga yang merasa cemas atau depresi di hari pertambahan usia. Ini adalah hal normal.

Terdapat beberapa hal yang justru dapat membuat perasaan negatif saat ulang tahun. Misalnya, apakah pesta yang saya adakan kurang besar? Mengapa teman-teman saya tak memberi ucapan selamat? Sekali lagi, ini adalah hal wajar.

"Waktu di mana Anda seharusnya merasa bahagia dan mendapatkan banyak perhatian dari orang lain adalah permulaan dari kekecewaan," ujar Debra Kissen, PhD, direktur klinis Light on Anxiety, pusat perawatan terapi perilaku kognitif di Chicago.

Tak hanya karena faktor eksternal, beberapa orang merasa buruk dengan hari ulang tahun karena menyadari bahwa waktu mereka untuk hidup makin berkurang.

Kissen melanjutkan, ketika seseorang bertambah tua, ia semakin dekat dengan kematian. Terkadang pikiran ini hanya sepintas, tetapi bisa membuat suasana hati buruk.

Terakhir, emosi dalam hati juga tak jarang membuat perasaan menjadi lebih melankolis. Beberapa pikiran seperti "Apakah aku sudah sebahagia seharusnya?" atau "Apakah orang-orang memikirkanku?" dapat menimbulkan kecemasan dalam hati.

Jika pada akhirnya ulang tahun justru menyebabkan kecemasan, lihatlah dari sisi yang berbeda. Lakukan dengan hal-hal yang membuat Anda bahagia.

"Jadilah otentik dengan diri sendiri, dan cari tahu bagaimana cara terbaik untuk menghargai pertambahan usia. Cobalah menjauh dari kebisingan untuk mengetahuinya."





(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id