NEWSTICKER
Menahan napas 10 detik untuk mengecek covid-19 menurut Dr Robert Legare Atmar adalah tidaklah benar. (Foto: Pexels.com)
Menahan napas 10 detik untuk mengecek covid-19 menurut Dr Robert Legare Atmar adalah tidaklah benar. (Foto: Pexels.com)

Menahan Napas 10 Detik untuk Mengecek Covid-19 Adalah Mitos

Rona Virus Korona virus corona covid-19
Raka Lestari • 25 Maret 2020 14:49
Jakarta: Dengan semakin meningkatnya kasus covid-19 di Indonesia, informasi mengenai covid-19 ini juga semakin beragam. Namun tidak semua informasi tersebut bisa dipastikan kebenarannya.
 
Salah satunya adalah informasi mengenai cara pengecekan covid-19 secara mandiri dengan menahan napas selama 10 detik.
 
Dr Robert Legare Atmar, dokter spesialis penyakit menular di Baylor College of Medicine menegaskan bahwa informasi mengenai hal tersebut tidaklah benar. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ketika seseorang mengalami infeksi virus akut, maka akan sulit bagi seseorang untuk menghirup napas dalam-dalam dan tidak batuk karena saluran udara terganggu,” ujarnya. Walau begitu, bukan berarti bisa menahan napas 10 detik tanpa batuk seseorang tidak terinfeksi covid-19.
 
“Melakukan hal tersebut juga tidak ada hubungannya dengan fibrosis (proses pembentukan jaringan fibrin), meskipun memang seseorang yang mengalami fibrosis juga mungkin kesulitan melakukannya. Mampu menahan napas selama 10 detik juga tidak berarti seseorang tidak terinfeksi covid-19,” tambahnya.
 
Dikutip dari USA Today, fibrosis didefinisikan sebagai pertumbuhan berlebih, pengerasan, dan / atau jaringan parut dari berbagai jaringan yang disebabkan oleh reaksi inflamasi kronis yang disebabkan oleh berbagai rangsangan termasuk infeksi persisten, reaksi autoimun, respons alergi, gangguan kimia, radiasi, dan cedera jaringan.
 
Dr Thomas Nash, spesialis paru dan spesialis penyakit menular dari New York Presbyterian Hospital mengatakan bahwa fibrosis membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun untuk berkembang.
 
“Meskipun covid-19 dapat menyebabkan pneumonia pada beberapa pasien, yang pada akhirnya dapat menyebabkan fibrosis. Namun covid-19 ini masih merupakan virus baru, sehingga tidak ada orang yang bisa mengetahui apakah ini bisa menyebabkan fibrosis,” tutup Nash.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif