Perkenalkan pola makan sehat pada si kecil sejak dini dan sedikit demi sedikit. (Foto: Pexels.com)
Perkenalkan pola makan sehat pada si kecil sejak dini dan sedikit demi sedikit. (Foto: Pexels.com)

Suplemen Bisa Bantu Pencernaan Anak?

Rona kesehatan pencernaan perkembangan anak
Sunnaholomi Halakrispen • 29 Maret 2020 17:05
Jakarta: Kesehatan anak bisa dilihat dari pencernaannya. Mulai dari apa yang telah dimakan, hingga apa yang harus dikonsumsi selanjutnya agar pencernaan si kecil menjadi lebih baik lagi.
 
Lalu, apakah suplemen bisa membantu memperbaiki pencernaan anak? Prof. dr. Badriul Hegar. Ph.D, Sp.A(K) selaku Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menyatakan hal tersebut harus diperdalam lagi.
 
"Bisa saja kemajuan teknologi seperti itu. Tapi bagi saya, ada enggak bukti ilmiahnya. Yang saya tekankan, perbaiki pola defekasi. Barangkali secara nalar enggak logis nih. Diekstrak-in menjadi bubuk," ujar Prof. Badriul Hegar di Jakarta 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menekankan, asupan nutrisi anak untuk sehari-hari perlu menjadi fokus. Terlebih, soal konsumsi sayuran. Pengenalannya agar anak memahami manfaat sayur yang diperhatikan lagi.
 
"Emang rasanya enggak enak serat dari makan sayur dibandingkan biskuit. Lalu pola makan enggak usah ngoyo," jelasnya.
 
Mengenalkan satu per satu makanan sejak bayi. Misalnya, pada porsi makan pagi terdapat nasi, sayur, dan lauk-pauk. Dicampur harus menjadi satu mangkok.
 
"Tapi tentu kebutuhan kalorinya harus terpenuhi. Berikan makanan yang seimbang, karbohidrat, lemak, protein, sayur sebagai serat," paparnya.
 
Pengenalan nutrisi yang tepat bisa dimulai sejak anak mulai makan atau saat MPASI. Hal ini bisa membantu anak terbiasa dengan apa yang dikonsumsi hingga usianya beranjak dewasa.
 
Berdasarkan porsi yang disarankan, untuk anak usia delapan bulan membutuhkan sekitar 800 kalori per hari. Ibu bisa mencoba terjemahkannya, apakah bisa mulai dari sarapan, camilan, dan makan utama. 
 
"Sayangnya kita belum sampai sedetail itu menerapkan jumlah nutrisi dalam setiap kandungan bahan makanan," akunya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif