dr. Hawani Sasmaya Prameswari,SpJP, pada acara 24th Asean Federation Cardiology Congress, di kawasan ICE BSD City,--Medcom.id/Raka Lestari.
dr. Hawani Sasmaya Prameswari,SpJP, pada acara 24th Asean Federation Cardiology Congress, di kawasan ICE BSD City,--Medcom.id/Raka Lestari.

Mengenal Penyakit PPCM saat Hamil

Rona penyakit jantung
Raka Lestari • 21 September 2019 16:00
Jakarta: Penyakit gagal jantung merupakan salah satu yang perlu diwaspadai, terutama pada ibu hamil. Beberapa faktor bisa menjadi penyebab terjadinya gagal jantung, salah satunya adalah peripartum kardiomiopati atau PPCM. 
 
“Jadi PPCM itu adalah gagal jantung yang disebabkan karena kehamilan. Memang kejadiannya masih cukup jarang tapi di Indonesia sebenarnya cukup tinggi,” dr. Hawani Sasmaya Prameswari,SpJP, pada acara 24th Asean Federation Cardiology Congress, di kawasan ICE BSD City, Tangerang, Jumat, 20 September 2019.
 
Berdasarkan hasil penelitian di RS Hasan Sadikin Bandung angka pasien yang mengalami gagal jantung selama kehamilan cukup tinggi. Mencapai sekitar 28 persen. “Jadi berdasarkan data tersebut, pasien yang gagal jantung selama kehamilan sekitar 28 persen karena PPCM. Jadi memang cukup tinggi,” ucapnya. 
 
Jika PPCM bisa dilakukan diagnosis awal, kemungkinan untuk kembali normal bisa sangat tinggi dalam jangka waktu 6 bulan. Lebih dari 50 persen pasien bisa kembali normal jika PPCM diketahui lebih awal.
 
"Jadi makanya kenapa sangat penting untuk mengetahui apa saja faktor risiko dan apa saja gejalanya supaya bisa mendapatkan terapi sesuatu,” tambah dr. Sasmaya. 
 
Menurut dr. Sasmaya faktor risiko PPCM yang pertama adalah kehamilan diatas usia 30 tahun dan yang kedua adalah sudah hamil lebih dari satu kali. Jadi kalau misalnya wanita sudah berusia diatas 30 tahun dan hamil maka meningkatkan risiko PPCM. Atau misalnya dia punya hipertensi dalam kehamilan dan atau juga hamil kembar. "Nah itu risikonya cukup tinggi untuk memgalami PPCM,” paparnya. 
 
Untuk itu sangat penting melakukan deteksi dini atau prenatal care. Melakukan prenatal care penting sekali selama kehamilan, dari trimester awal. Apalagi kalau ibu hamil tersebut berisiko tinggi, misalnya hamil di usia 30 tahun ke atas.
 
"Nah itu harus melakukan prenatal care dengan baik. Efeknya adalah jika memang ada indikasi gagal jantung atau gangguan lainnya bisa terdeteksi. Misalnya dia ada hipertensi tapi terseteksinya sudah terlambat, itu bisa saja malah menjadi gagal jantung,” tutup dr. Sasmaya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif