Ilustrasi--(Foto: Pinterest)
Ilustrasi--(Foto: Pinterest)

Penyebab Deja Vu

Rona psikologi
Raka Lestari • 12 Oktober 2019 15:11
Jakarta: Deja vu merupakan fenomena yang unik yang mungkin pernah dialami oleh banyak orang. Menurut New York Times, seseorang dengan imajinasi yang lebih terstimulasi cenderung lebih sering mengalami deja vu.
 
Fenomena ini cukup sering dialami oleh mereka yang sering melakukan traveling dan mereka yang memiliki nila akademik yang lebih tinggi. Beberapa orang mengidentikkan orang yang sering mengalami deja vu sebagai seorang time traveler. Padahal itu bisa terjadi karena alasan neurologis.
 
Dan berikut ini adalah beberapa alasan mengapa seseorang mengalami deja vu dari sisi neurologis:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada kesalahan di otak Anda
 
Penjelasan ini berkaitan dengan bagaimana otak menyimpan ingatan jangka panjang dan pendek. Dilansir dari Psychology Today, para peneliti berhipotesis bahwa infromasi yang diambil dari lingkungan kemungkinan ‘bocor’ dan berada pada jalur yang salah antara memori jangka pendek dan jangka panjang.
 
Ketika Anda baru mengalami suatu kejadian, yang harusnya berada di ingatan jangka pendek maka akan terasa bahwa kejadian tersebut berada di ingatan jangka panjang.
 
Panca indera yang bekerja untuk otak Anda
 
Karena otak terus bekerja untuk memahami apa yang terjadi pada hidup Anda dan terkadang menggunakan input yang sangat kecil, beberapa ahli percaya bahwa déjà vu mungkin bisa disebabkan karena adanya percampuran antara sensory input dan memory recalling output. 
 
Itu berarti sesuatu yang sederhana seperti wangi parfum yang familiar di sebuah situasi dapat menipu otak untuk berpikir bahwa situasi tersebut merupakan sesuatu momen yang sudah familiar bagi Anda.
 
Anda sudah merencanakan sebelumnya
 
Anda tentu pernah merencanakan atau membayangkan sesuatu yang akan Anda lakukan. “Ketika Anda membayangkan sesuatu sekarang yang mungkin saja belum terjadi, hal itu dapat menciptakan rasa familiar jika apa yang Anda bayangkan tersebut benar-benar terjadi di kemudian hari,” ujar Dr Kathleen McDermott, seorang peneliti mengenai topik yang berkaitan dengan memori di Universitas Washington, kepada New York Times.
 
“Anda tidak perlu objek informasi dari luar diri Anda untuk merasakan rasa akrab pada situasi tertentu, Anda bisa menciptakannya sendiri pada diri Anda,” terangnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif