Sleepwalking atau tidur sambil berjalan adalah salah satu fenomena yang mungkin sulit dipercayai kecuali itu terjadi pada diri Anda sendiri. (Ilustrasi/Pexels)
Sleepwalking atau tidur sambil berjalan adalah salah satu fenomena yang mungkin sulit dipercayai kecuali itu terjadi pada diri Anda sendiri. (Ilustrasi/Pexels)

Mengapa Seseorang Mengalami Sleepwalking?

Rona tidur
Raka Lestari • 13 Agustus 2020 15:07
Jakarta: Sleepwalking atau tidur sambil berjalan adalah salah satu fenomena yang mungkin sulit dipercayai kecuali itu terjadi pada diri Anda sendiri. Meskipun begitu, gangguan tidur ini merupakan sesuatu yang umum dari yang Anda kira. Menurut Sleep Foundation, sleepwalking ini bisa dialami sampai 15 persen populasi.
 
Seperti dilansir Thelist, secara medis sleepwalking disebut sebagai somnambulisme. Spesialis Tidur di Princess Alexander Hospital Sleep Disorders Centre in Australia, Dr. Claire Ellender mengkategorikan sleepwalking sebagai jenis parasomnia yaitu sekelompok gangguan tidur yang membuat Anda melakukan hal-hal yang seharusnya tidak Anda lakukan saat tidur seperti berjalan dalam tidur, berbicara sambil tidur, dan mengompol.
 
Tapi kenapa parasomnia bisa terjadi? “Diperkirakan bahwa parasomnia disebabkan oleh disosiasi tidur dan terjaga yang tidak sempurna, yang berarti otak berada di tengah-tengah antara terjaga dan tertidur di malam hari,” jelas Dr Ellender. Tetapi ini tidak berarti mereka yang sleepwalking tidak akan tidur nyenyak. Pada umumnya, mereka yang mengalami sleepwalking jarang bisa mengingat ketika mereka meninggalkan tempat tidurnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sleepwalking sering terjadi pada anak-anak dan dipercaya bahwa ini terjadi karena faktor genetik. “Sleepwalking lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Dan faktor yang dianggap dapat memengaruhi hal tersebut adalah karena anak-anak memiliki lebih banyak slow-wave sleep dimana sleepwalking mulai terjadi,” kata Dr Vishesh Kapur, direktur dari University of Washington Sleep Disorders Center. Oleh karena itu banyak anak-anak yang sering mengalami sleepwalking ketika mereka masih kecil dan kebiasaan tersebut menghilang ketika mereka tumbuh dewasa.
 
Dan bagi mereka yang masih mengalami sleepwalking pada saat dewasa, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang berpotensi bisa menyebabkannya atau meningkatkan kemungkinan terjadinya sleepwalking.
 
“Secara umum, hindari hal-hal yang dapat memicu sleepwaking seperti alkohol, kafein, dan simultan lainnya sebelum tidur untuk mengurangi frekuensi sleepwalking,” kata Dr Ellender. Kurang tidur dan beberapa kondisi tertentu serta obat-obatan juga dapat menyebabkan orang dewasa mengalami sleepwalking.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif