Percaya Diri Berlebihan Menuai Kematian Empati

Dhaifurrakhman Abas 15 November 2018 14:46 WIB
psikologi
Percaya Diri Berlebihan Menuai Kematian Empati
Jika kepercayaan diri terjadi secara berlebihan, ada resiko negatif yang membentuk kepribadian seseorang. (Foto: Julian Howard/Unsplash.com)
Jakarta: "I am the greatest!" Mungkin Anda masih ingat kalimat pongah yang dilontarkan petinju tersohor Muhammad Ali. Atau yang diucapkan petarung gaya campuran, Conor McGregor dengan the king is back-miliknya?

Terlepas dari bisnis yang mereka lakukan untuk menjual pertandingan atau tidak, tetap saja, sebagian orang tendensius mendengarkan ucapan itu. Tak sedikit pula yang beranggapan itu bentuk kepercayaan diri dari sang petarung.

Beberapa penelitian mengungkap bahwa kepercayaan diri berdampak positif buat pribadi. Angelis Barbara, dalam bukunya; Percaya Diri, Sumber Sukses dan Kemandirian (2000), mengatakan rasa percaya diri membuat orang menjadi lebih optimistis dalam menjalankan kehidupan.


Hal itu berawal dari kemauan yang keras pada diri sendiri untuk mendapatkan segala hal yang diinginkan. Sementara dalam teori social learning, lingkungan tumbuh kembang menjadi modal awal yang membentuk rasa percaya diri.


("Dibutuhkan kontrol diri dalam membatasi rasa percaya diri," ujar psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Foto: Caleb Betts/Unsplash.com)

(Baca juga: Lima Ciri Orang dengan Gangguan Narsistik)

"Anak belajar dengan meniru perilaku lingkungan sekitarnya. Hasil belajar tersebut akan menjadi mental set yang melekat dalam kepribadiannya," kata psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, kepada Medcom.id, Rabu 14 November 2018.

Efnie melanjutkan, rasa percaya diri tidak hanya bisa berdampak baik pada seseorang. Jika terjadi secara berlebihan, ada resiko negatif yang membentuk kepribadian seseorang dengan rasa empati yang rendah.

"Membentuk narsistik. Hanya bisa mengagumi dan mencintai diri sendiri. Sehingga kemampuan empati terhadap sekelilingnya menjadi lemah," ucapnya.

Untuk itu, kata Efnie, dibutuhkan kontrol diri dalam membatasi rasa percaya diri. Hal itu bisa dimulai dari kemauan pribadi menerima kritik dan saran dari orang lain.

"Sederhananya, mau menyadari kekurangan akan diri, mau dikritik dan tidak merasa diri paling hebat dan sempurna," pungkasnya.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id