Acara Seminar Media: Harapan Baru bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin dengan Terapi Inovatif--Medcom.id/A. Firdaus
Acara Seminar Media: Harapan Baru bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin dengan Terapi Inovatif--Medcom.id/A. Firdaus

Mengenal Brentuximab Vedotin, 'Obat Pintar' Pembunuh Kanker

Rona kanker
A. Firdaus • 13 November 2019 17:44
Jakarta: Beberapa teknologi pengobatan inovatif memberikan harapan baru dalam bidang kesehatan untuk para pejuang kanker. Salah satunya targeted therapy terkini Brentuximab Vedotin (BV).
 
BV adalah Antibody Drug Conjugate (ADC) yang terdiri dari anti-CD30 yang terkonjugasi dengan monomethyl auristatin E (MMAE), suatu zat sitotostik. Terapi ini sangat berguna dalam bidang onkologi.
 
ADC dapat meningkatkan harapan hidup. Khususnya bagi pasien Kanker Limfoma Hodgkin (Kelenjar Getah Bening) yang mengalami kekambuhan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kanker Limfoma Hodgkin biasanya menyerang kelenjar getah bening. Tepatnya kelenjar yang berada di leher dan kepala. Bentuknya seperti benjolan.
 
Apa itu pengobatan ADC
 
Pengobatan ini merupakan salah satu bagian dari manajemen tatalaksana kekambuhan non transpalantasi dalam bentuk Targeted Therapy. Kinerjanya, menggabungkan monoclonal antobody dan zat sitotoksik serta secara spesifik mengenali dan membunuh sel kanker.
 
Potensi usia
 
Berdasarkan Data Globocan 2018, ada 79.990 kasus baru dengan 26.167 kematian pada tahun 2018. Khusus di Indonesia, setidaknya ada 1.047 kasus baru Kanker Limfoma Hodgkin. Di mana 574 orang meninggal pada tahun lalu.
 
Biasanya Kanker Limfoma Hodgkin menyasar ke dua fase usia. Yaitu pada usia dewasa muda (20-24) dan lanjut usia antara 75-79 tahun.
 
Gejalanya, terjadi pembesaran kelenjar getah bening, demam yang bisa datang dan pergi selama beberapa minggu tanpa infeksi, berkeringat pada malam hari. Penyintas Limfoma Hodgkin ini juga akan mengalami penurunan berat badan 10 persen selama 6 bulan, gatal-gatal di kulit, merasa lelah, kehilangan selera makan, batuk, susah bernapas, hingga nyeri di dada.
 
Kanker Limfoma Hodgkin bisa disembuhkan
 
Pasien kanker ini mempunyai harapan kesembuhan yang lebih tinggi. Mencapai 80 persen dengan pengobatan yang tersedia saat ini.
 
Salah satunya yang dialami oleh Intan Khasanah. Sejak 2013 dara asal Pekanbaru ini berjuang melawan Kanker Limfoma Hodgkin. Hingga akhirnya Intan mengalami kesembuhan total pada 2019.
 
"Awalnya saya sakit demam tinggi dan muncul benjolan kecil di leher. Saya kira hanya sakit TBC, sehingga kondisi saya semakin memburuk," ujar Intan saat bercerita pada Acara Seminar Media di Rafles Hotel, Jakarta.
 
Kemudian, Intan merasa benjolan di leher kian membesar dan sesak di dada, terasa lemas, dan kelelahan yang ekstrim. Setelah dilakukan pengangkatan benjolan di leher, akhirnya dia didiagnosa terkena Kanker Limfoma Hodgkin Stadium 4.
 
"Setelah itu, saya menjalani beberapa pengobatan medis, yang hingga tahun ini sudah 26 kali saya kemoterapi, enam kali di antaranya kemoterapi regimen ABVD. Kemudian diulang kembali karena hasilnya belun maksimal. Setelah itu mendapatkan sekali regimen kemoterapi DHAP, radiasi, dan operasi, " jelas Intan.
 
Penyakit yang diderita Intan tak kunjung sembuh, sehingga dilakukan pemeriksaan CD30. Hasilnya, Intan positif menderita Limfoma Hodgkin CD30. Sehingga dia harus menjalani targeted therapy terkini, yaitu BV.
 
"Sekarang saya sudah dinyatakan remisi total (sembuh) setelah 9 kali berobat dengan BV. Sementara efek yang dirasakan juga lebih minim dibandingkan dengan kemoterapi sebelumnya," Intan bercerita.
 
Obat pintar itu bernama BV
 
Meski memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, ada kemungkinan kecil bagi penderita kanker ini untuk kambuh, sekitar 10-30 persen. Maka dilakukan kemoterapi dosis tinggi yang dilanjutkan dengan transplantasi sumsum tulang.
 
"Regimen kemoterapi ini jika kambuh tidak banyak mengalami perubahan dalam 30 tahun terakhir ini. Transplantasi sumsum tulang juga tidak selalu dapat dilakukan pada kasus Limfoma Hodgkin kambu karena masalah finansial dan ketidakmampuan fisik terutama pasien-pasien usia lanjut," ujar Dr. dr. Ikhwan Rinalfi, SpPD-KHOM, M. Epid.
 
"Saat ini terdapat inovasi pengobatan non-transplantasi dengan ADC yang dikategorikan sebagai terapi bertarget. Obat pintar ini berbeda dengan kemorerapi karena mampu mengenali sel Limfoma Hodgkin melalui ikatan antara antibodi monoklonal anti-CD30 dengan CD30," terang Dr. dr Ikhwan.
 
Dokter spesialis Hematologi Onkologi Medik RSCM ini juga menjelaskan, obat pintar ini merupakan kombinasi antibodi dan zat sitotostik yang disebut ADC, yang mengandung dua komponen yaitu antibodi monoklonal anti-CD30 yang dinamakan Brentuximab dsn monomethyl auristatin E (MMAE). Sehingga obat ini diberi nama Brentuximab Vedotin (BV).
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif