Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Tiga Hal yang Dialami saat Menghadapi The New Normal

Rona Virus Korona virus corona covid-19 New Normal
Kumara Anggita • 14 Mei 2020 15:03
Jakarta: Pandemi covid-19 telah membuat hidup kita berubah. Kita jadi melakukan hampir semua aktivitas dari rumah.
 
Pada awalnya kita agak bingung tapi sekarang sedikit demi sedikit sudah lebih nyaman dengan situasi #dirumahaja ini. Ternyata dalam menghadapi covid-19 ini, ada tiga tahap yang sering tak disadari orang-orang.
 
Menurut dr. Leonardi Goenawan, Sp.KJ Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RS Pondok Indah – Puri Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Anda mengalami tiga tahap atau strata kondisi perilaku, yaitu tahap disrupsi, tahap kebingungan dan ketidakpastian, yang berujung pada tahap penerimaan.

Tahap disrupsi

Tahap disrupsi adalah tahap ketika seseorang akan mengalami perubahan pola hidup, perubahan rutinitas sehari-hari, kehilangnya kebebasan. Dalam konteks ini mungkin Anda sedih karena tidak bisa jalan-jalan, main bersama teman dan semacamnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, tidak sedikit yang mengalami kecemasan tinggi karena khawatir tertular, sulit konsentrasi, yang kemudian diikuti oleh perubahan pola makan dan pola tidur.
 
“Penyakit kronis yang sudah lama dialami mulai kembali tidak stabil, termasuk gangguan-gangguan psikis yang sebelumnya pernah dialami,” jelasnya.

Tahap kebingungan dan ketidakpastian

Lalu pasti dalam masa-masa ini, Anda jadi sering galau pada hal-hal yang sebelumnya Anda jarang pikirkan. Ini wajar saja karena pandemi covid-19 membuat Anda berpikir bahwa Anda kehilangan kendali.
 
“Pada tahap ini seseorang akan merasa kelelahan secara mental karena merasa tidak adanya kepastian, kehilangan kendali, dan terhentinya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kualitas hidup dengan sendirinya menurun, berbagai hal yang biasa dengan mudah terpenuhi, saat ini menjadi mustahil,” paparnya.
 
“Di samping daya beli yang menurun drastis, ketersediaan barang juga menjadi langka. Semua rencana yang sebelumnya terasa sangat mudah dan bisa digapai dalam waktu yang terukur, kini hanya menjadi angan-angan belaka. Kehidupan berjalan lambat, penuh kejenuhan, dan kekhawatiran,” tambahnya.
 
Dalam masa ini, kecemasan meningkat, seseorang cenderung mengalihkannya dengan konsumsi rokok, alkohol, dan penyalahgunaan obat.

Tahap penerimaan (dengan standar normal yang baru)

Dan terakhir adalah tahap penerimaan di mana Anda akhirnya sudah ikhlas dengan situasi yang ada. Maka akhirnya timbul sikap penerimaan tanpa syarat terhadap kondisi yang ada, dengan diikuti oleh berbagai perubahan dalam pola hidup dan kebiasaan.
 
"Kemampuan adaptasi seseorang membuatnya mampu untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dan memandang kehidupan dengan cara yang lebih realistis terhadap situasi yang sebelumnya dianggap sebagai disrupsi pada semua aspek kehidupannya,” jelasnya.
 
Dokter Leonardi menjelaskan bahwa beberapa perubahan yang mulai dilakukan pada mereka yang telah mencapai tahap ini adalah:
 
-Mulai terbentuk gaya hidup “stay at home” (menurunnya mobilitas, belanja online, orang lebih selektif dalam belanja (kebutuhan vs keinginan), pemilihan makanan yang lebih praktis, dan lain-lain.
 
-“Back to basic” (lebih banyak aktivitas yang dilakukan di rumah, munculnya kembali bahan-bahan tradisional untuk menjaga kesehatan, dan lain-lain)
 
-Optimalisasi virtual (work-from-home, kelahiran generasi Zoom, telemedicine, dan lain-lain)
 
-Timbulnya kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif