Menurut Efnie Indrianie, M.Psi, penyebar video kekerasan terjadi karena terkait aktivitas amigdala otak yang terinduksi oleh memori negatif. (Foto: Pexels.com)
Menurut Efnie Indrianie, M.Psi, penyebar video kekerasan terjadi karena terkait aktivitas amigdala otak yang terinduksi oleh memori negatif. (Foto: Pexels.com)

Psikologi Penyebar Video Penembakan di Media Sosial

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 19 Maret 2019 12:52
Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Efnie Indrianie, M.Psi mengatakan, orang yang senang membagi video agresi tersebut, tentulah mereka yang menikmati perilaku agresi. Hal ini terjadi karena terkait aktivitas amigdala otak yang terinduksi oleh memori negatif.
 

 
Jakarta:
Dunia berduka atas terjadinya penembakan di kawasan 24 Oktoberplein di Utrecht, Belanda, Senin 18 Maret 2019. Penembakan juga terjadi di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru atau New Zealand, Jumat, 15 Maret 2019, yang menewaskan 50 orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penembakan di Selandia Baru direkam secara audio visual atau video yang kemudian viral di media sosial, baik Facebook hingga Whatsapp. Dari satu orang ke orang lain, dalam percakapan sebuah grup, hingga secara massal.
 
Ribuan orang dapat menyaksikan video yang bernuansa agresi itu. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, pun menjelaskan bagaimana psikologi pelaku penyebar video tersebut.
 
"Orang yang senang membagi video agresi tersebut, tentulah mereka yang menikmati perilaku agresi. Hal ini terjadi karena terkait aktivitas amigdala otak yang terinduksi oleh memori negatif sejak kecil," ujar Efnie kepada Medcom.id.
 
Ia memaparkan, pelaku penyebar video seperti menikmati perannya. Lantaran demikian, melemahkan fungsi salah satu bagian otak manusia.
 
Psikologi Penyebar Video Penembakan di Media Sosial
(Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Efnie Indrianie, M.Psi mengatakan orang yang senang akan membagi video kekerasan terjadi karena terkait aktivitas amigdala otak yang terinduksi oleh memori negatif. Foto: Pexels.com)
 
(Baca juga: Cara Mengatasi Video Sadis yang Tersebar di Media Sosial)
 
"Kondisi ini yang melemahkan fungsi prefrontal cortex otak, di mana bagian otak ini berperan dalam proses mengendalikan perilaku interpersonal," tuturnya.
 
Prefrontal cortex otak berfungsi untuk berpikir, membuat keputusan, mengontrol emosi, hingga mengontrol bagaimana berempati kepada orang lain. Dalam situasi duka cita mendalam bagi dunia, seharusnya video yang berisiko memicu amarah tidak disebarluaskan.
 
"Inilah yang menjadi sebab mengapa sebaiknya kita jangan membagikan video yang berisikan perilaku agresi, karena apabila dilihat anak yang masih kecil akan membuat anak yang bersangkutan menyimpan memori bernuansa agresi tersebut di amigdala otaknya," papar Efnie.
 
Anak-anak yang menyaksikan perilaku atau adegan yang bernuansa agresi akan cepat menyerapnya. Selain itu, memori yang terbentuk sejak kecil lebih sulit dinetralkan dibanding ingatan oleh orang dewasa.
 
"Karena memori tersebut akan melekat dalam sistem penyimpanan memori jangka panjang," pungkas Efnie.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif