Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, M.Kes dalam acara Rakernas Kemenkes, di ICE BSD, Tangerang, Selasa, 12 Februari 2019. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, M.Kes dalam acara Rakernas Kemenkes, di ICE BSD, Tangerang, Selasa, 12 Februari 2019. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)

Anung Sufihantono: Fogging Bukan Hal yang Paling Efektif

Rona fogging
Kumara Anggita • 12 Februari 2019 15:39
Tangerang: Untuk mencegah penyakit demam berdarah semakin bertambah, masyarakat di beberapa daerah mengambil inisiatif untuk melakukan fogging sendiri. Akan tetapi, menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, M.Kes upaya ini tidak efektif.
 
Sebelumnya, pihak Kementerian Kesehatan telah memberikan peringatan kepada masyarakat bahwa penyakit demam berdarah akan melanda. Namun jumlah pasien yang mengindap penyakit ini tetap tinggi.
 
“Kemenkes telah memberikan early warning system sejak bulan November karena kita sudah melihat tren kenaikan kasus pada minggu terakhir bulan Oktober. Kita sudah minta daerah untuk melakukan antisipasi,” tuturnya dalam acara Rakernas Kemenkes, di ICE BSD, Tangerang, Selasa, 12 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Baca juga: Fogging Tak Efektif Basmi Nyamuk DBD)
 
Banyaknya pasien yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan kondisi yang memprihatinkan. Pada tahun 2019 jumlahnya mecapai 19.000-an.  
 
“DBD dari 2019 sampai saat ini sampai laporan jam lima sore kemarin jumlahnya 19.003 orang dari 34 provinsi,” tuturnya.
 
Tidak terhentinya demam berdarah membuat warga berinisiatif untuk melakukan fogging sendiri. Anung menyatakan bahwa cara ini tidak efektif.
 
Fogging itu bukan hal yang paling efektif. Fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa,” lanjutnya.
 
Perlu dilakukan pemberantasan secara menyeluruh. Bagi Anung hanya membunuh nyamuk dewasa sesungguhnya tidak menghentikan permasalahan ini.
 
“Kalau terpaksa dilakukan maka harus diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk minimal tiga bulan beruturut-turut. Memastikan setiap minggu itu juga ada pemeriksaan jentik di masing-masing container dan dibersihkan," lanjutnya.
 
Untuk melakukan fogging juga tidak mudah. Ada persyaratan-persyaratan yang perlu diketahui oleh orang awam.
 
“Kita harus lihat arah angin, kelembapan, cuaca, pagi siang sore dan sebagainya. Berkaitan dengan siklus nyamuk, nyamuk istirahat pada jam 9 jam 11 pada pagi hari. Kemudian sore hari dia aktif," tuturnya.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif