Jeremy Payne, MD, PhD, direktur Pusat Stroke di Phoenix mengatakan stroke naik selama musim flu dan mungkin terjadi di antara pasien covid-19. (Foto: Pexels.com)
Jeremy Payne, MD, PhD, direktur Pusat Stroke di Phoenix mengatakan stroke naik selama musim flu dan mungkin terjadi di antara pasien covid-19. (Foto: Pexels.com)

Mencegah Stroke pada Pasien Covid-19

Rona stroke covid-19 stroke iskemik
Sunnaholomi Halakrispen • 25 Mei 2020 07:00
Jakarta: Tingkat stroke naik selama musim flu dan mungkin terjadi di antara pasien covid-19. Hal itu disampaikan oleh Jeremy Payne, MD, PhD, direktur Pusat Stroke di Banner di Klinik Kedokteran Neurosciences Clinic di Phoenix, dikutip dari The Healthy.
 
"Ini bisa menjadi reaksi inflamasi umum, karena orang sakit dengan virus dan sistem kekebalan bertindak sebagai respons, atau itu bisa disebabkan oleh faktor risiko individu ditambah dengan kemampuan virus untuk menyebabkan pembekuan," ujar Dr. Payne, dikutip dari The Healthy.
 
Ia memaparkan bahwa ketika pembekuan atau gumpalan darah terjadi, maka dapat memblokir pembuluh darah yang memasok oksigen ke otak dan menyebabkan stroke iskemik. Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan dan harus segera ada tindakan medis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lantaran demikian, di Amerika Serikat, ada kesadaran menyeluruh di rumah sakit dan di antara para dokter bahwa pasien covid-19 berisiko mengalami pembekuan darah. Apakah itu di area paru-paru, jantung, atau di mana pun di dalam tubuh. Kondisi itu pun memengaruhi rencana perawatan pada pasien covid-19.
 
"Banyak rumah sakit dapat memberikan pasien mereka obat pengencer darah sejak awal, yang akan kita lakukan secara tradisional jika seseorang memiliki pembekuan darah yang besar," tuturnya. 
 
Obat pengencer darah tersebut diberikan untuk mencegah pembentukan gumpalan serta mencegah gumpalan yang ada menjadi lebih besar. Namun, risiko stroke dari covid-19 jarang terjadi.
 
Sementara gagasan bahwa virus itu dapat meningkatkan risiko Anda terkena stroke tentunya merupakan kabar yang menakutkan. Hal yang perlu diingat ialah risiko stroke dari virus itu tampaknya sangat kecil.
 
"Baik saya maupun rekan saya di California tidak melihat adanya stroke pembuluh darah besar pada pasien new coronavirus, rekan-rekan saya di New York pun jarang," tutur Jason Tarpley, MD, PhD, ahli saraf intervensional dan direktur Pusat Stroke dan Neurovaskular Pasifik di Pusat Kesehatan Providence Saint John, Amerika Serikat.
 
"Bisa jadi ada dua jenis virus dan satu dari mereka menghasilkan stroke sementara yang lain tidak, atau bisa jadi prevalensi coronavirus sangat tinggi di New York sehingga para dokter melihat lebih dari ini di sana," tambahnya.
 
Maka demikian, ia menekankan agar masyarakat tetap waspada terhadap mitos-mitos tentang virus korona baru. Tidak mudah percaya adalah kunci utamanya. Kemudian, perhatikan kondisi diri Anda, apakah terkena gejala stroke.
 
Terutama, kata Dr. Payne, ketika wajah terkulai, ada kelemahan di bagian lengan, kesulitan berbicara, dan kurangnya penglihatan. 
 
Ia menekankan, jika Anda berpikir Anda mengalami stroke atau keadaan darurat medis apa pun selama pandemi covid-19 ini, Anda perlu membawa diri Anda ke ruang gawat darurat rumah sakit terdekat.
 
"Waktu adalah penting, karena semakin cepat Anda mendapatkan perawatan medis maka semakin baik kondisi Anda. Anggap saja seperti rumah Anda terbakar. Semakin lama Anda berdiri untuk memperdebatkan apa yang harus dilakukan tentang hal itu, semakin banyak rumah terbakar," pungkas Dr. Payne.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif