Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, Ahli Hematologi Onkologi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)  (tengah) (Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, Ahli Hematologi Onkologi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) (tengah) (Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

Penderita Kanker Diminta Tak Menghindari Biopsi

Rona kanker
Sunnaholomi Halakrispen • 04 Februari 2020 10:05
Jakarta: Penderita kanker yang melakukan perawatan dengan tepat sesuai anjuran dokter ahli bisa mengurangi risiko memburuknya kanker. Namun sebelum melakukan perawatan, disarankan untuk melakukan biopsi (pengambilan sampel dari jaringan tubuh yang terkena penyakit untuk pemeriksaan mikroskopik) terlebih dahulu. 
 
Biopsi dapat menentukan apakah tumor itu bersifat jinak atau ganas. "Orang yang enggak dibiopsi sama dibiopsi, sama-sama nyebar (kankernya), itu saja jadi buktinya. Kalau dibiopsi, dia jinak pasti enggak nyebar," ujar Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, Ahli Hematologi Onkologi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), di Tjikinii Lima Resto, Cikini, Jakarta Pusat.
 
Ia menekankan, masyarakat harus tahu bahwa biopsi itu wajib dilakukan. Sebab, tidak ada pengobatan tanpa biopsi. Sehingga, para penderita kanker tidak boleh menghindari biopsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena di manapun kalau kedokteran, tanpa hasil biopsi maka tidak ada pengobatan. Langkah pertama sebetulnya imaging city scan. Ada juga yang pakai path scan, tapi itu hanya menentukan bahwa, oh iya ini kemungkinan besar adalah kanker," paparnya.
 
Namun, kepastian apakah benar teridentifikasi adanya kanker ialah melalui biopsi atau dengan mengambil jaringan itu. Sebab, untuk melihat kanker, bentuknya sel yang hanya bisa dilihat di bawah mikroskop, tidak bisa dilihat dengan city scan.
 
"City scan juga menduga, dengan dia biopsi, oh selnya begini, bahwa ini adalah sel kanker, tidak sama dengan sel di sekitarnya. Paru, misalnya enggak sama dengan parunya, jadi dia betul kanker," tuturnya.
 
Selain bisa memastikan bahwa apakah teridentifikasi kanker, biopsi juga bisa memastikan jenis kankernya. Bahkan, jika tidak melakukan biopsi justru malah akan menyebabkan hal buruk yang merugikan pasien maupun dokter.
 
"Misalnya, enggak usah biopsi apa dampaknya kepada pasien dan dokter. Satu, obatnya salah. Kalau dia ternyata bukan kanker tapi dikemoterapi, ya salah," jelasnya.
 
Dampak buruk lainnya, apabila ternyata kankernya jenis apa, ternyata obat yang diberikan dokter bukan untuk jenis kanker tersebut. Sebab, dokter tidak bisa memastikan jenis kanker tanpa melakukan biopsi.
 
Meskipun, ada juga yang beruntung, ketika dokter tetap bisa memberikan obat yang tepat dengan teknik yang tidak sesuai prosedur. Pada kondisi itu, dokter dinilai salah. Apalagi, ketika obat yang diberikan ternyata salah.
 
"Dokter yang enggak boleh salah, dokter harus ilmiah, kalau salah dokter dituntut. Jadi dokter itu harus betul, harus benar," ucapnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif