Ibu hamil yang anemia berakibat melahirkan anak yang stunting. (Ilustrasi/Pexels)
Ibu hamil yang anemia berakibat melahirkan anak yang stunting. (Ilustrasi/Pexels)

Risiko Anemia terhadap Ibu Hamil

Rona stunting
Sunnaholomi Halakrispen • 15 Januari 2020 13:06
Jakarta: Ibu hamil berisiko anemia. Tidak hanya berbahaya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi kondisi kesehatan si jabang bayi yang akan dilahirkan mereka.
 
Jumlah ibu hamil yang mengalami anemia pun mengkhawatirkan. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA, selaku Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. 
 
"Ibu hamil 48,6 persen itu anemia, artinya dari 10 ibu hamil, empat sampai lima atau hampir separuhnya (ibu hamil di Indonesia) anemia," ujar Dr. Dhian di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah tersebut berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Dari jumlah yang banyak itu, diyakini masih banyak ibu hamil yang belum memahami penyakit anemia serta bahayanya.
 
Sebab, terkadang kondisi anemia tidak dirasakan oleh ibu hamil. Mereka tidak tahu bahwa dia mengalami anemia.
 
Lantaran risiko yang sangat berbahaya, Dr. Dhian menekankan perlunya mengonsumsi makanan sehat dan bergizi cukup bagi seluruh ibu hamil. Selain itu, juga mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) yang menjadi salah satu program pemerintah.
 
"Minimal minum 90 tablet selama sembilan bulan. TTD penting karena memiliki kandungan zat besi, vitamin B dan B6, baik untuk kesehatan ibu dan janin," jelasnya.
 
Obat ini harus diminum secara rutin dan teratur. Ibu hamil harus mengonsumsi TTD sebanyak 10 tablet dalam sebulan. Ketika ditotalkan, ada 90 tablet yang harus dikonsumsi.
 
Kemudian, perlu melakukan pemeriksaan. Setidaknya, periksakan kondisi diri sebanyak empat kali dalam satu bulan. Ibu hamil akan dijelaskan tentang kondisinya secara detail dan diberikan solusi terbaik untuk ke depannya. "Jika Hb-nya dibawah 11, berarti tidak patuh minum obatnya," imbuhnya.
 
Dr. Dhian mengungkapkan bahwa ibu hamil yang anemia berakibat melahirkan anak yang stunting. Risiko terburuknya, sang ibu bisa meninggal atau kematian pada bayi. 
 
"Di NTT (Nusa Tenggara Timur) angka stuntingnya 42,6 persen, artinya dari 10 anak balita ada empat anak stunting. Itu NTT jadi daerah tertinggi stunting. Kalau di Jawa Timur 32,8 persen, artinya 3-4 anaknya stunting dari 10 balita," pungkasnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif