Fitur Filter di Media Sosial Berpotensi Memicu Gangguan Mental
55 persen ahli bedah melaporkan bahwa pasien melakukan operasi plastik untuk meningkatkan cara mereka melakukan swafoto di media sosial. (Foto: Elijah O'Donell/Unsplash.com)
Jakarta: Tak sedikit warganet yang senang menggunakan fitur filter di media sosial untuk membuat wajah terlihat lebih menarik. Ternyata, muncul dampak lanjutan dari kebiasaan tersebut, yaitu memiliki wajah yang 'dihiasi' di kehidupan nyata. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association Facial Plastic Surgery menyebutkan bahwa keinginan tersebut semakin ekstrem dan kini dikenal sebagai Body Dysmorphic Disorder (BDD).

BDD adalah gangguan mental (dan sejenis gangguan obsesif kompulsif) di mana seseorang menjadi terobsesi dengan pikiran tentang kekurangan yang dirasakan. 


"Bagi seseorang dengan BDD, seluruh keseimbangan hidup mereka tergantung apakah mereka terlihat baik-baik saja atau apakah mereka menyamarkan cacat yang dirasakan mereka dengan tepat," ungkap Tom Hildebrandt, PsyD, kepala Divisi Gangguan Makan dan Berat di Sistem Kesehatan Mount Sinai di New York City.

(Baca juga: Thighlighting, Tren Operasi Plastik di Kalangan Hollywood)


(Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association Facial Plastic Surgery menyebutkan bahwa keinginan tersebut semakin ekstrem dan kini dikenal sebagai Body Dysmorphic Disorder (BDD). Foto: Gian Cescon/Unsplash.com)

Sebuah artikel yang diterbitkan dalam JAMA mengeluarkan istilah baru, yaitu "Snapchat dysmorphia," yang menyimpulkan bahwa aplikasi seperti Snapchat dan FaceTune berkontribusi pada standar kecantikan yang tidak terjangkau.

Sebelumnya, para penulis menyebutkan bahwa para pasien mendatangi dokter bedah plastik mereka dengan foto-foto selebriti yang telah diedit untuk kesempurnaan dalam penyebaran majalah. 

Sekarang, kata mereka, pasien ingin terlihat seperti versi filter dari diri mereka sendiri, dengan bibir yang lebih penuh, mata yang lebih besar, atau hidung yang lebih tipis.

Menurut data terbaru, 55 persen ahli bedah melaporkan bahwa pasien melakukan operasi plastik untuk meningkatkan cara mereka melakukan swafoto di media sosial. Angka tersebut naik 42 persen dari tahun 2015.

"Ini adalah tren yang mengkhawatirkan karena filter swafoto sering menghadirkan tampilan yang tidak dapat dicapai dan mengaburkan garis realitas dan fantasi untuk pasien-pasien ini," demikian menurut para peneliti.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id