Ilustrasi-Unsplash
Ilustrasi-Unsplash

Penelitian untuk Menentukan Tingkat Infeksi Covid-19 pada Anak-anak

Rona Virus Korona studi kesehatan virus corona covid-19 wabah covid-19 pada anak
Kumara Anggita • 06 Mei 2020 13:05
Penelitian untuk Menentukan Tingkat Infeksi Covid-19 di Anak-anak
Jakarta: Hingga sekarang, informasi tentang covid-19 masih minim. Peneliti terus melakukan segala hal yang terkait menyelesaikan permasalahan ini.
 
Misalnya, baru-baru ini para peneliti Amerika telah mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengungkap tingkat infeksi covid-19 di antara anak-anak di Amerika Serikat.
 
Dilansir dari Live Science, National Institutes of Health (NIH) membuat penelitian yang dikenal sebagai Epidemiologi Manusia dan Respons terhadap SARS-CoV-2, atau HEROS. Menurut  National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), mereka  merekrut 6.000 orang dari 2.000 keluarga A.S. yang berlokasi di 11 kota.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tim peneliti akan memantau setiap anak dan keluarga mereka selama enam bulan untuk melacak siapa yang terkena covid-19, melihat apakah anak-anak tersebut menularkan virus ke anggota keluarga lain yang akhirnya menunjukkan gejala.
 
"Salah satu fitur menarik dari pandemi coronavirus novel ini adalah sangat sedikit anak-anak yang kena covid-19 dibandingkan dengan orang dewasa," kata Direktur NIAID Dr. Anthony Fauci.
 
“Apakah ini karena anak-anak tahan terhadap infeksi dengan SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19), atau karena mereka terinfeksi tetapi tidak mengembangkan gejala?,” lanjutnya.
 
Ketua peneliti studi HEROS, Dr. Tina Hartert menyebutkan bahwa, sejauh ini tingkat infeksi SARS-CoV-2 pada populasi AS terbatas pada orang yang berinteraksi secara fisik dengan sistem perawatan kesehatan, yang terdiri dari orang-orang yang positif covid-19 atau mereka yang punya penyakit parah. Sayangnya data ini tidak bisa membantu mereka untuk memahami infeksi  SARS-CoV-2 pada seluruh populasi.
 
Studi HEROS pun memasukkan anak-anak dengan alergi dan tanpa alergi. Dengan seperti itu, mereka bisa menentukan bagaimana alergi dan asma berhubungan dengan risiko covid-19.

Proses penelitian

Studi ini akan dilakukan dari jarak jauh. Sehingga pengasuh di rumah tangga masing-masing peserta akan ditugaskan mengumpulkan sampel usap hidung, dari peserta studi primer dan anggota keluarga terdaftar lainnya setiap dua minggu.
 
Seiring dengan mengumpulkan sampel swab, pengasuh akan melengkapi kuesioner online tentang gejala masing-masing peserta, praktik jarak sosial, kegiatan di luar rumah, dan paparan kepada orang yang sakit.
 
Jika ada anggota rumah tangga yang mengalami gejala infeksi virus, keluarga akan mengisi kuesioner khusus untuk menentukan apakah penyakitnya kemungkinan COVID-19. Jika demikian, orang yang terinfeksi akan diminta untuk memasok sampel tinja dalam waktu 24 jam, dan pengasuh yang ditunjuk juga akan mengumpulkan usap hidung tambahan dari setiap anggota rumah tangga.
 
Sampel usap hidung dan tinja akan disaring untuk mengetahui adanya SARS-CoV-2, dan setiap sel saluran napas yang dikumpulkan dalam proses tersebut juga akan menjalani analisis genetik.
 
Pengasuh juga akan mengumpulkan sampel darah dari peserta pada dua minggu, 18 minggu, dan 24 minggu setelah pendaftaran studi, serta tiga minggu setelah kemungkinan kasus pertama covid-19.
 
Mereka akan mengumpulkan sampel darah menggunakan alat baru yang hampir tidak menimbulkan rasa sakit dan akhirnya darah akan diperiksa untuk mengetahui antibodinya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif