Sunscreen atau tabir surya mengandung kadar kimia tinggi berdasarkan hasil penelitian. Berikut penjelasannya. (Foto: Pexels.com)
Sunscreen atau tabir surya mengandung kadar kimia tinggi berdasarkan hasil penelitian. Berikut penjelasannya. (Foto: Pexels.com)

Sunscreen Mengandung Bahan Kimia Tingkat Tinggi?

Rona kesehatan kulit
Sunnaholomi Halakrispen • 23 Mei 2019 19:53

Sunscreen atau tabir surya dapat melindungi kulit dari bahaya sinar matahari. Namun, tabir surya memiliki kandungan atau kadar kimia yang tinggi dan memberikan efek tertentu pada kulit manusia.
 
 
Jakarta:
Selama bertahun-tahun, Anda disarankan atau didesak untuk mengolesi tabir surya ke kulit sebelum berkelana ke luar ruangan. Tetapi data Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat mengungkapkan, bahan kimia dalam tabir surya diserap ke dalam tubuh manusia pada tingkat yang cukup tinggi untuk meningkatkan kekhawatiran tentang potensi efek toksik.
 
Tingkat aliran darah dari empat bahan kimia dalam tabir surya meningkat secara dramatis. Hal ini berdasarkan hasil uji, baik menggunakan semprotan, losion, maupun krim selama empat hari sesuai petunjuk pada label.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dr Kanade Shinkai selaku dokter kulit dari University of California, San Francisco School of Medicine, menyatakan bahwa bahan kimianya dalam tingkat tinggi.
 
"Ini benar-benar sangat tinggi, pesanan besarnya lebih tinggi dari itu," ujar Dr Shinkai dilansir dari WebMD.
 
Namun, para ahli mengatakan Anda tidak boleh berhenti menggunakan tabir surya dengan cepat. Pada titik ini, risiko bahaya yang diketahui dari sinar matahari melebihi potensi risiko yang ditimbulkan oleh bahan kimia ini.
 
"Saya khawatir orang-orang akan berhenti memakai tabir surya. Kami tahu sinar ultraviolet dari matahari memiliki efek yang sangat merusak pada kulit. Ini menyebabkan photoaging. Itu menyebabkan kulit terbakar," kata Shinkai.
 
Sunscreen Mengandung Bahan Kimia Tingkat Tinggi?
(Efek Kadar Kimia yang Tinggi dalam Sunscreen. Foto: Pexels.com)
 
Sinar matahari yang mengenai kulit memang sangat berbahaya. Bahkan, berisiko menyebabkan penyakit seperti melanoma dan kanker kulit lainnya.
 
Michele Green, dokter kulit dari Lenox Hill Hospital di New York City, pun setuju. Ia merasa ada yang membingungkan.
 
"Walaupun ini lebih dari rekomendasi FDA (Food and Drug Administration Amerika Serikat) untuk toksikologi, kami benar-benar tidak tahu apa artinya dalam hal kesehatan manusia. Saya tidak ingin orang berhenti menggunakan tabir surya berdasarkan studi yang satu ini," tutur Green.
 
Pemakaian tabir surya juga menimbulkan kemungkinan adanya efek pada hormon. Sebagian besar tabir surya menggunakan bahan kimia seperti oxybenzone, avobenzone, dan octocrylene untuk memblokir sinar berbahaya.
 
Bahan kimia organik ini menyerap radiasi ultraviolet dan mengubahnya menjadi sedikit panas. Hal tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association, salah satu jurnal medis terkemuka di Amerika.
 
Penelitian pada hewan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa bahan kimia, khususnya oksibenzon, dapat mengganggu pola hormon normal pada manusia, catat para peneliti FDA dalam studi mereka.
 
"Molekul-molekul ini pada dasarnya adalah cincin kimia, dan mereka menyerap cahaya. Cincin kimia juga merupakan dasar fundamental bagi banyak hormon, dan cincin kimia cenderung memasuki sel," kata Shinkai, yang ikut menulis editorial yang menyertai penelitian ini.
 
Oxybenzone telah ditemukan dalam ASI manusia, cairan ketuban, urin dan darah. Untuk penelitiannya, FDA secara acak meminta 24 orang dewasa menggunakan semprotan tabir surya, lotion atau krim empat kali sehari selama empat hari. Para peserta mengaplikasikan tabir surya pada tiga perempat permukaan tubuh mereka.
 
Penelitian tersebut dilakukan di laboratorium, dan agensi tersebut mengambil 30 sampel darah dari masing-masing peserta selama satu minggu untuk melihat apakah bahan kimia di tabir surya dapat diserap melalui kulit.
 
Ditemukan hasil penelitian bahwa kadar oxybenzone, avobenzone, octocrylene dan ecamsule meningkat dalam aliran darah setelah penggunaan tabir surya.
 
"Pasti ada alasan yang perlu dikhawatirkan, karena jika Anda memikirkannya, obat apa pun yang Anda beli tanpa resep, Anda akan berharap semua obat yang ada di sana telah diuji, aman, dan efektif. Ini tidak pernah terbukti untuk tabir surya,” pungkas Shinkai.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif