Plasma darah bisa sembuhkan orang yang terkena covid-19? Berikut informasi selengkapnya. (Foto: Dok. YouTube TRT World)
Plasma darah bisa sembuhkan orang yang terkena covid-19? Berikut informasi selengkapnya. (Foto: Dok. YouTube TRT World)

Plasma Darah dalam Hal Pengobatan Virus Korona

Rona Virus Korona virus corona covid-19
Kumara Anggita • 17 Februari 2020 08:00
Jakarta: Berbagai cara untuk mengobati penyakit dari virus korona masih dalam topik bahasan dunia. Namun, akhirnya ada seorang pejabat kesehatan di Tiongkok angkat bicara tentang hal ini pada 13 Februari 2020 lalu.
 
Caranya adalah dengan menggunakan darah dari pasien virus korona yang sudah sembuh. Dikutip dari The New York Times, ia meminta orang yang telah pulih dari virus korona untuk menyumbangkan plasma darah karena mungkin mengandung protein berharga yang dapat digunakan untuk mengobati pasien yang sakit.
 
Menurut NYT, antibodi ini mampu membantu merawat 10 pasien yang sakit kritis, mengurangi peradangan mereka dalam 12 hingga 24 jam. Namun apakah ini ide yang bagus untuk segera diterapkan?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para ahli mengatakan kepada Live Science bahwa pendekatan ini adalah cara yang logis dan menjanjikan untuk merawat pasien virus korona yang sakit parah. Tapi dokter harus waspada tinggi untuk efek samping yang akan muncul. 
 
Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus, bakteri atau zat asing lainnya. Dibutuhkan waktu bagi tubuh untuk meningkatkan produksi antibodi melawan virus yang sangat baru. 
 
Jika virus atau bakteri yang sama mencoba menyerang lagi di masa depan, tubuh akan mengingat dan dengan cepat menghasilkan pasukan antibodi.
 
Orang yang baru saja pulih dari COVID-19 masih memiliki antibodi terhadap virus korona yang beredar dalam darah mereka. Menyuntikkan antibodi ke pasien yang sakit secara teoritis dapat membantu pasien melawan infeksi dengan lebih baik.
 
Dengan kata lain, perawatan ini akan mentransfer kekebalan pasien yang pulih ke pasien yang sakit, suatu pendekatan yang telah digunakan sebelumnya dalam pandemi flu menurut Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi di Universitas Hong Kong kepada Times.
 
Carol Shoshkes Reiss, seorang profesor biologi dan ilmu saraf di New York University mengatakan bahwa dia senang percobaan ini sedang diuji. Namun, dia meminta agar para peneliti perlu mengendalikan kemungkinan efek dari perawatan. Tidak semua orang yakin bahwa  menggunakan plasma darah pada pasien adalah cara yang masuk akal.
 
"Saya pikir perawatan teoretis ini adalah ide yang bagus, tetapi tidak ada apa pun tentang virus ini atau infeksi ini yang membuat saya ingin melewati proses normal yang kami gunakan untuk memastikan bahwa perawatan itu aman dan efektif sebelum membuat orang tertular," kata Dr Eric Cioe-Peña, direktur kesehatan global di Northwell Health di New York yang tidak terlibat dengan penelitian ini, mengatakan kepada Live Science dalam email. 
 
"Saya pikir kita harus membiarkan proses ilmiah untuk melanjutkan dan mencoba untuk memelajari perawatan yang diusulkan ini sebelum memberlakukannya, terutama pada virus yang memiliki tingkat kematian yang rendah,” lanjutnya. 
 
Infus plasma hanyalah satu dari banyak pilihan pengobatan yang dipertimbangkan para ahli untuk mengobati COVID-19. Live Science sebelumnya melaporkan bahwa ada pula antivirus anti-repurposing atau mencari molekul baru yang dapat memblokir pengikatan virus ke dalam sel.
 

 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif