Ilmuwan asal Tiongkok mengembangkan terapi pembunuh kanker dan tumor dengan metode gabungan. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Ilmuwan asal Tiongkok mengembangkan terapi pembunuh kanker dan tumor dengan metode gabungan. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Ilmuwan Tiongkok Kembangkan Terapi Antitumor

Rona penelitian terapi antitumor
Dhaifurrakhman Abas • 15 Juli 2019 09:00
Ilmuwan asal Tiongkok mengembangkan terapi pembunuh kanker dan tumor dengan metode gabungan. Metode ini diyakini membunuh tumor dengan cara yang lebih efektif.
 

Jakarta: Metode terapi pembunuh kanker dan tumor ini dituangkan dalam jurnal Science Immunology. Dalam jurnal disebutkan, metode ini difokuskan untuk mencegah sel-sel sistem kekebalan tubuh tidak toleran terhadap tumor. Sebab ini sering terjadi pada 30 persen pasien penderita tumor dan kanker.
 
Alhasil, sebuah tim yang dipimpin Wang Dangge dari Institut Materia Medica Shanghai, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Universitas Fudan lantas mengembangkan checkpoint inhibitor imun. Ini merupakan formulasi nanopartikel yang sangat spesifik untuk tumor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kata Wang, checkpoint inhibitor merupakan sejenis terapi antitumor yang semakin populer dewasa ini. Obat ini berperan menjaga sel T, yang merupakan sel kekebalan tubuh, tetap berfungsi membunuh kanker.
 
Sayangnya checkpoint inhibitor digunakan hanya menargetkan protein penekan sistem kekebalan tubuh, seperti PD-1 dan PD-L1. Sehingga sering gagal membunuh tumor metastasis.
 
Ilmuwan Tiongkok Kembangkan Terapi Antitumor
(Ilmuwan asal Tiongkok mengembangkan terapi pembunuh kanker dan tumor dengan metode gabungan. Metode ini diyakini membunuh tumor dengan cara yang lebih efektif. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
 
Wang beserta rekannya kemudian menggabungkan nanopartikel yang membawa antibodi penargetan PD-L1 dengan molekul yang diaktifkan menggunakan cahaya. Molekul yang disebut fotosensitiser dapat menghasilkan spesies oksigen reaktif pembuh tumor. Ini berfungsi membunuh protein yang berlimpah dalam tumor tersebut.
 
Pada uji coba terhadap tikus laboratorium, radiasi infra merah mampu mengaktifkan fotosensitiser dan administrasi nanopartikel pembawa antibodi. Radiasi juga mempromosikan infiltrasi sel T yang membunuh sel kanker. Metode ini juga mampu membuat tumor lebih sensitif terhadap blokade checkpoint inhibitor.
 
Kombinasi ini juga membantu nanopartikel secara efektif menekan pertumbuhan tumor dan metastasis ke paru-paru dan kelenjar getah bening. Sehingga hal ini diklaim meningkatkan kemungkinan hidup tikus laboratorium higga 80 persen.
 
"Ini meningkatkan kehidupan tikus 70 hari lebih lama dibandingkan dengan yang hanya diobati dengan antibodi PD-L. Tikus yang berahan dalam 45 hari dalam kelompok," ujar Wang, dikutip Times of India.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif