Ilustrasi-Freepik
Ilustrasi-Freepik

Iskemik, Penyakit Tidak Menular yang Tetap Mengancam di Masa Pandemi

Rona jantung tips kesehatan penyakit jantung
Rendy Renuki H • 07 Februari 2021 10:40
Jakarta: Penyakit menular di masa pandemi Covid-19 tentu patut diwaspadai. Namun, bukan berarti kita mengabaikan penyakit lainya yang tidak menular, seperti penyakit jantung iskemik yang tetap mengancam di masa pandemi.
 
Mengacu data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) selama 2013-2018 meningkat sampai 34 persen di Indonesia. Sejak 2015, data itu menunjukkan empat penyakit teratas penyebab kecacatan, kesakitan dan kematian adalah stroke, jantung iskemik, kanker dan diabetes mellitus (DM).
 
Iskemik yang juga dikenal dengan jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada 2015, tercatat lebih dari 7 juta orang meninggal karena penyakit ini. Sedangkan di Indonesia, lebih dari 2 juta orang terkena penyakit ini di 2013.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jantung koroner (iskemik) merupakan kondisi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat timbunan lemak. Lemak semakin bertumpuk, arteri akan semakin menyempit. Efeknya, aliran darah ke jantung berkurang," kata Dokter spesialis jantung Siloam Hospitals Sriwijaya, dr. Arief Aji Subakti SpJP FIHA Cardiologist, dikutip Sabtu 6 Februari 2021.
 
Seiring berkurangnya aliran darah ke jantung, akan memicu gejala jantung iskemik, seperti nyeri dada, dan sesak napas. Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani, arteri akan tersumbat sepenuhnya sehingga memicu serangan jantung. 
 
Tanda seseorang memiliki gejala iskemik juga bisa dilihat dari beberapa ciri. Seperti sering merasa capek atau kelelahan tanpa sebab, mudah merasa goyah dan pusing saat berdiri atau saat melakukan aktifitas seperti biasa.
 
Nyeri dada yang rasa sakitnya bisa menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang atau punggung menjadi gejalan lain Iskemik. Ciri lainnya adalah seseorang kerap berkeringat dingin dan mual.
 
Guna pencegahan, perlu diketahui sejumlah faktor risiko yang memicu terjadinya serangan jantung. Terdapat dua faktor risiko yang memicu, di antaranya faktor risiko yang tidak dapat dicegah, serta faktor risiko yang dapat dicegah.
 
Beberapa faktor risiko yang tidak dapat dicegah seperti usia lanjut, serta faktor jenis kelamin terutama pria yang lebih memiliki resiko terkena jantung koroner ketimbang wanita. Faktor risiko lain yang tidak dapat dicegah adalah faktor riwayat keluarga.
 
Sedangkan faktor risiko yang dapat dicegah di antaranya kebiasaan merokok karena nikotin bisa menyebabkan penyempitan arteri. Selain itu, obesitas juga menjadi faktor risiko yang dapat dicegah, selain faktor riwayat tekanan darah, kolesterol, dan gula darah yang tinggi. Juga faktor trauma mental atau stres psikologis berat dalam jangka waktu panjang.
 
Penyakit Jantung Koroner dapat di diagnosa melalui beberapa metode, yaitu Elektrokardiogram (EKG), yang akan terlihat perubahan dari gambar EKG. Metode lain adalah Ekokardiogram (Echo) dan USG jantung, yang berfungsi melihat kekuatan pompa jantung apakah akan menurun, akibat kerusakan otot jantung.
 
Metode berikutnya yakni Stress Test (TMT), yang akan dilakukan treadmill untuk mendeteksi kinerja dan kemampuan jantung. Serta metode Katerisasi Jantung (Cath), metode meneropong pembuluh darah apakah masih bisa diberikan obat atau harus dibuka dengan dipasang kateter agar aliran yang tersumbat dapat terbuka.
 
"Tindakan yang dapat dilakukan yaitu dengan dilakukan pemasangan Stent (ring) untuk memperlebar arteri koroner yang menyempit. Juga bisa dilakukan bedah koroner seperti operasi bypass jantung yang merupakan pengobatan yang paling umum untuk penyakit jantung koroner. Juga dapat melakukan angioplasty jika diperlukan," papar dr. Arief.
 
Mencegah penyakit iskemik (jantung koroner) juga bisa dilakukan dengan beberapa cara sederhana. Seperti melakukan pola makan sehat dengan asupan kandungan karbohidrat kompleks yang baik untuk kesehatan tubuh seperti nasi, pasta, roti, kacang-kacangan,apel, wortel, dan pisang.
 
Hindari mengonsumsi makanan seperti daging olahan (hotdog, sosis, daging asap), kopi yang dicampur gula, margarin, makanan kaleng, dan camilan kemasan. Karena makanan tersebut dapat menyebabkan resiko penyakit kanker, diabetes, dan ginjal. Juga batasi berbagai makanan cepat saji.
 
Pencegahan lain adalah berhenti merokok, karena 50 persen kemungkinan untuk meninggal, setengahnya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Pada saat mengonsumsi rokok maka ada zat Dopamin yang menyebabkan adiktif.
 
Menghindari stress juga merupakan bentuk mencegah penyakit jantung iskemik. Kontrol hipertensi, kolesterol dan gula darah tinggi dengan berkala juga bisa membuat Anda tetap waspada untuk mencegah iskemik.
 
Cara lain mencegah jantung iskemik adalah dengan menghindari obesitas dan berolahraga teratur. Namun kenali terlebih dahulu status kesehatan Anda sebelum memulai olahraga, sesuaikan kemampuan fisik dan jangan memaksakan diri.
 
Pilih olahraga yang bersifat aerobik dan lakukan dengan durasi 30 menit sebanyak 3-5 hari dalam sepekan. Olahraga ideal pemilik riwayat jantung pun harus diperhatikan, seperti melakukan olahraga ringan dan santai macam berjalan atau joging sesuai kemampuan agar tidak memaksakan jantung bekerja terlalu berat.
 
"Henti jantung dimulai adanya timbunan lemak atau plak yang menghambat pembuluh darah, bisa lepas terbawa aliran saat pacu jantung bekerja berat, salah satunya olahraga. Saat plak terlepas akan menyumbat aliran pembuluh darah yang mengakibatkan hentinya pacu jantung," tutur dr. Arief.
 
(ACF)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif