Toxic positivity sendiri, dilakukan dengan menolak atau mengabaikan sisi negatif dari apapun. (Ilustrasi/Pexels)
Toxic positivity sendiri, dilakukan dengan menolak atau mengabaikan sisi negatif dari apapun. (Ilustrasi/Pexels)

Apa Itu Toxic Positivity dan Apakah Berbahaya?

Rona psikologi kesehatan mental
Raka Lestari • 06 Agustus 2020 16:11
Jakarta: Memiliki pemikiran yang positif terhadap suatu kejadian memang merupakan hal yang baik, tetapi berpikir positif secara berlebihan tentu bukanlah hal yang tepat. Toxic positivity sendiri, dilakukan dengan menolak atau mengabaikan sisi negatif dari apapun. Dan hal itu tentunya bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan mental. 
 
“Toxic positivity melibatkan fokus, membiarkan diri Anda merasakan, atau hanya mengekspresikan emosi yang dianggap positif karena dengan begitu dianggap bisa membuat diri menjadi lebih baik,” kata psikoterapis Karen R. Koenig, seperti dilansir Bustle
 
Dengan selalu memaksa untuk memikirkan hal positif pada suatu hal, ini dapat menghambat respon alami tubuh untuk menghadapi situasi yang sulit. “Bukannya menghadapi suatu permasalahan atau tantangan, toxic positivity ini lebih pada menyangkal, mengecilkan, dan menekan perasaan alami yang dirasakan,” ujar psikoterapis Jennifer Murayama. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ini mengingatkan saya dengan kalimat ‘positive vibes only,’” kata konselor Myisha Jackson, LPC. “Toxic positivity menganggap, dengan memfokuskan diri pada emosi negatif maka hal itu dapat membawa perasaan dan perilaku negatif.”
 
Ingin menghindari rasa ketidaknyamanan memang sesuatu yang bisa dipahami, tetapi toxic positivity mengajarkan Anda untuk menekan setiap pengalaman yang mungkin dianggap negatif. “Anda bertingkah seolah-olah emosi negatif tidak ada,” kata Jackson. 
 
"Sebenarnya, emosi adalah nilai-netral, meskipun mereka dapat menghasilkan kebahagiaan atau kesedihan dalam diri kita," kata Koenig. “Baik itu emosi positif atau negatif, hanya memberi kita informasi, sama seperti yang dilakukan oleh panca indra mengenai ancaman yang ada di sekitar kita. Dan kita membutuhkan semua emosi kita, baik yang positif atau negatif untuk dapat bertahan hidup dan berkembang.”
 
Seseorang yang selalu berusaha bersikap positif setiap waktu, akan berakhir tanpa memiliki alat untuk mengatasi permasalahan yang dibutuhkan. “Tidak apa-apa jika Anda merasa sedang tidak baik-baik saja. Anda tidak perlu memalsukan kebahagiaan dan mengabaikan apa yang Anda rasakan,” ujar Jackson.
 
Menekan emosi yang dirasakan, tidak akan membuat perasaan negatif menghilang tetapi justru akan membuat perasaan negatif tersebut menjadi lebih intens. Selain itu, menekan perasaan negatif juga dianggap dapat berpengaruh pada kesehatan.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif