Suasana ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC)--Medcom.id/Raka Lestari.
Suasana ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC)--Medcom.id/Raka Lestari.

Penyebab Penyakit Jantung Bawaan

Rona penyakit jantung
Raka Lestari • 20 September 2019 16:00
Jakarta: Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
 
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun.
 
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan masalah yang cukup menjadi perhatian dalam ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) tahun ini, karena merupakan kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan juga Ketua Terpilih Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Radityo Prakoso, SpJP (K), FIHA mengatakan penyakit jantung bawaan (congenital heart disease, CHD) merupakan kelainan baik pada struktur maupun fungsi jantung yang didapat sejak masih berada dalam kandungan.
 
Menurutnya, kelainan ini dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung, maupun pembuluh darah yang ada di dekat jantung. Akibatnya, dapat terjadi gangguan aliran darah di dalam tubuh pasien.
 
"Misalnya, terjadi sumbatan aliran darah, atau darah mengalir ke jalur yang tidak semestinya,” jelas dr. Radit, dalam acara Press Conference 24th AFCC, di kawasan ICE BSD City, Tangerang, Jumat, 20 September 2019.
 
PJB merupakan kelainan bawaan yang paling sering ditemukan. Angka kejadian PJB di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1,2 juta kasus dari 135 juta kelahiran hidup setiap tahunnya.
 
Dari jumlah tersebut, sekitar 300.000 kasus dikategorikan PJB berat yang membutuhkan operasi kompleks agar dapat bertahan hidup. Sementara di Indonesia, angka kejadian PJB diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup atau sekitar 9:1000 kelahiran hidup setiap tahunnya.
 
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, yang juga Wakil Sekjen I PERKI dan Wakil Ketua AFCC, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K),FIHA menambahkan PJB dapat dideteksi sejak dini, bahkan sejak masih berada dalam kandungan. Kunci pencegahan PJB adalah pemeriksaan sebelum kehamilan (prenatal) dan selama kehamilan (antenatal) yang baik,” ujar dr. Ario.
 
“Kehamilan risiko tinggi seperti pada wanita di atas usia 35 tahun, pernikahan sedarah (konsanguitas) atau dengan kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes sebaiknya melakukan pemeriksaan antenatal di dokter spesialis kandungan secara teratur. Selain itu, mengontrol gula darah yang baik sebelum kehamilan juga dapat menurunkan risiko terjadinya CHD akibat diabetes pada ibu,” tutup dr. Ario.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif