Konferensi pers Bicara Gizi: Kehamilan Berisiko Tinggi di HeArt Space Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 17 September 2019. (Foto: Krispen/Medcom.id)
Konferensi pers Bicara Gizi: Kehamilan Berisiko Tinggi di HeArt Space Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 17 September 2019. (Foto: Krispen/Medcom.id)

Kehamilan Berisiko Tinggi Masih Rentan di Indonesia

Rona kehamilan
Sunnaholomi Halakrispen • 17 September 2019 19:29
Jakarta: Kehamilan dengan risiko tinggi tidak berkurang di Indonesia. Malah jumlahnya, berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, meningkat. Sebanyak 48,9 persen ibu hamil di Indonesia mengalami anemia atau kekurangan darah.
 
Dr. dr. Ali Sungkar, SpOG(K) menyatakan bahwa angka tersebut meningkat dibandingkan lima tahun sebelumnya atau pada 2013, yakni sebanyak 37,10 persen ibu hamil dengan anemia. Selain itu, sebanyak satu dari lima ibu hamil tercatat mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK).
 
Sekitar satu dari dua ibu hamil pun mengalami kekurangan asupan protein. Kemudian, lebih dari 50 persen ibu hamil kekurangan asupan zat besi, zinc, kalsium, serta Vitamin A dan Vitamin C. Beragam hal tersebut dipengaruhi oleh tindakan ibu selama 1000 hari pertama kehidupan si buah hati.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"1000 Hari Pertama Kehidupan, termasuk 270 hari di dalam kandungan, merupakan masa penting yang akan memengaruhi kondisi kesehatan dan tumbuh kembang si kecil di masa depan," ujar Dr. Ali di HeArt Space Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 17 September 2019.
 
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu memaparkan, sisi nutrisi dan gizi pada si ibu mulai dari sebelum kehamilannya sangat berperan penting untuk menjaga tubuhnya, dan si kecil agar tidak masuk dalam kategori kehamilan berisiko tinggi. Sebab, jika tidak ditangani dengan tepat, kehamilan berisiko tinggi bisa membahayakan kesehatan keduanya.
 
"Berpotensi memiliki pengaruh terhadap anak di dalam kandungan, seperti perkembangan janin tidak sempurna, berat janin kurang, kelahiran prematur, maupun bayi berat badan lahir rendah," paparnya.
 
Risiko lain, ibu merasa mual dan muntah, tapi yang keluar bukan hanya air tetapi juga elektrolit, energi, bahkan seluruh asupan. Kemudian, bengkak pada muka dan tangan, nyeri ulu hati, serta nyeri saat kencing yang jika dibiarkan bisa menjadi hipertensi pada saluran kencing. Bisa juga mengalami ketuban pecah atau kontraksi.
 
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor penyebabnya. Di antaranya, ibu hamil yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, memiliki penyakit penyerta, hingga kekurangan makronutrien dan mikronutrien.
 
"Ibu dengan mengidap penyakit boleh hamil tapi berisiko karena mengonsumsi obat-obatan. Bisa juga berpengaruh pada naiknya tekanan darah, kemudian menjadi diabetes juga bisa, atau preterm," tuturnya.
 
Ada dua hal yang menjadi pertanyaan ketika ibu hamil mengidap penyakit tertentu. Pertama, apakah penyakit tersebut memengaruhi kondisi kehamilannya, lalu apakah kehamilannya bisa menyebabkan sakit yang dideritanya semakin parah.
 
"Contohnya minum obat hipertensi, memengaruhi janin tidak? Harus diganti obat-obatannya, dimodifikasi. Lalu, diturunkan tdk penyakitnya ke anak. Kalau downsyndrome tidak diturunkan," imbuh dia.
 
Apabila ibu hamil mengidap penyakit asma, perlu diperhatikan perkembangannya. Apakah nantinya kondisi asma si ibu menjadi lebih berat, karena ada perubahan sirkulasi tubuh. Kemudian, risiko lainnya bisa jadi karena si ibu pernah menjalani operasi tertentu yang bisa berisiko pada kehamilannya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif