Mengenal Penyakit New Emerging Disease dan Re-emerging Disease

Raka Lestari 07 November 2018 17:44 WIB
kesehatan kemenkes
Mengenal Penyakit <i>New</i> <i>Emerging</i> <i>Disease</i> dan <i>Re-emerging</i> <i>Disease</i>
Salah satu ancaman kesehatan yang paling harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease. (Foto: Dok. Kemenkes)
Jakarta: Salah satu ancaman kesehatan yang paling harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease, yang kalau diterjemahkan artinya adalah infeksi yang baru muncul.

Dan sebagian besar, infeksi yang baru muncul tersebut sebagian besar bersumber dari binatang atau yang biasa disebut zoonosis.

"Ternyata infeksi yang baru muncul itu sebetulnya hampir 2/3 adalah penyakit yang bersumber dari binatang, kita sering menyebutnya zoonosis. Di dalam penyakit tular vektor/zoonosis yang bersumber dari binatang itu kita sudah mempunyai suatu pendekatan apa yang disebut dengan one health," ujar Kepala Badan Litbangkes Kemenkes RI Siswanto, pada jumpa pers di sela sela pertemuan GHSA ke 5 di Nusa Dua, Bali, Rabu 7 November 2018.


"Di dalam one health itu intinya bahwa fokus perhatian kita itu tidak hanya kepada manusia, karena ini bersumber binatang, ada tiga komponen yaitu manusia, binatang, dan di dalam wadahnya adalah lingkungan."

Menurut Siswanto, karena sifatnya adalah penyakit infeksi yang baru muncul maka untuk menentukan apakah seseorang benar menderita penyakit New Emerging Disease itu harus melalui pemeriksaan laboratorium.

"Untuk menentukan seseorang terkena MERS atau tidak, itu perlu dicek laboratorium untuk mengetahui apakah benar terkena penyakit tersebut atau tidak," tambah Siswanto.

Selain New Emerging Disease ada juga penyakit Re-emerging Disease. Berbeda dengan penyakit New Emerging Disease, penyakit Re-emerging Disease merupakan penyakit yang terjadi karena adanya mutasi dari penyakit awal.

(Baca juga: Kerja Sama Indonesia dalam GHSA Hadapi Penyakit Global)

"Contoh, sebagai ilustrasi bakteri TBC itu ternyata dia bermutasi yang disebut dengan multiple drug resistence tb. Begitu dia bermutasi menjadi multiple drug resistence tb itu dia menjadi tidak sensitif lagi dengan obat TBC yang ada."

Dan karena sudah tidak sensitif lagi, sehingga membutuhkan pengobatan yang lain. Dengan melakukan pengobatan lain, tentunya biaya akan menjadi lebih mahal dan waktu yang dibutuhkan juga menjadi lebih lama, serta kemungkinan untuk sembuhnya pun menjadi lebih kecil.

"Jadi boleh dikata re-emerging disease itu penyakit baru juga, tetapi kumannya merpakan jenis yang sudah lama," tambah Siswanto.

"Nah, itulah kenapa kita masyarakat juga harus dididik, kalau tidak infeksi sebaiknya jangan minum antibiotik. Kalau minum antibiotik, harus dilakukan dengan benar. Yang benar itu kan ada periodenya, minimal lima hari, minumnya tepat, dan lain sebagainya."





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id