Ilustrasi. (Metrotvnews.com)
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Kenali Karakter Pasangan, Cegah Kekerasan

Rona kekerasan dalam rumah tangga
15 Desember 2017 16:59
Jakarta: Adalah fakta bahwa tindak kekerasan kerap dilakukan oleh orang-orang dekat yang sudah dikenal dengan baik. Bukan hanya antara suami istri dalam sebuah ikatan perkawinan, antaranggota keluarga lain seperti orang tua dengan anak, sesama saudara, atau bahkan antargenerasi pun pernah terjadi.
 
Psikolog Mira Amir menilai kasus kekerasan yang dilakukan orang terdekat bukan hanya mengejutkan namun juga menjadi sesuatu yang menakutkan. Harus diakui bahwa orang terdekat berpeluang melakukan kekerasan ketika mengalami tekanan.
 
Faktor ekonomi selama ini diyakini sebagai faktor signifikan pemicu tindak kekerasan dalam masyarakat maupun rumah tangga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tetapi mungkin juga ada faktor internal atau individual masing-masing orang dengan rentang toleransi yang rendah. Artinya hal sederhana, kecil, dapat memicu tindak kekerasan," ungkap Mira, dalam Metro Siang, Jumat 15 Desember 2017.
 
Mira mengatakan dari sekian banyak kasus yang terjadi, kekerasan yang dilakukan oleh pasangan kerap dipicu oleh tuntutan yang terus menerus diminta oleh salah satu pihak. Tuntutan yang dinilai tak lagi masuk akal akan sangat mengganggu bagi pihak lain.
 
Ketika salah satu pihak tak terlalu baik dalam mengelola emosi atau stres, tindak kekerasan sangat mungkin terjadi akibat dorongan emosi sesaat yang kemudian dilampiaskan kepada pasangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
 
"Karenanya Saya sarankan ketika sudah dalam ikatan pernikahan kenali pasangan lebih mendalam bagaimana Dia menyikapi tekanan. Apakah menarik diri atau justru berperilaku konfrontatif dan agresif," katanya.
 
Mira mengatakan mengatakan ketika satu pihak memahami karakter pihak lain, sangat mungkin masalah-masalah yang kemudian muncul dapat diredam, diantisipasi, dan menghindari kondisi yang bisa mendorong satu sama lain untuk saling mencelakakan.
 
"Ketika konflik atau tekanan datang, diamkan dulu tunggu waktu yang lebih tenang. Saat sudah mampu mengontrol emosi bisa dibicarakan lagi secara baik-baik," jelasnya.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif