Ada beberapa cara untuk mengatasi terjadinya bullying, di antaranya yaitu dengan memberikan edukasi mengenai konsep bullying pada anak. (Foto Ilustrasi: Unsplash)
Ada beberapa cara untuk mengatasi terjadinya bullying, di antaranya yaitu dengan memberikan edukasi mengenai konsep bullying pada anak. (Foto Ilustrasi: Unsplash)

Dampak bagi Anak yang Menjadi Korban Bullying

Rona bullying
Raka Lestari • 22 Juli 2019 17:31
Mengetahui apakah anak Anda menjadi korban bullying itu cukup mudah. Perhatikan perilakunya, apakah dia terlihat lebih murung dibandingkan dengan biasanya.
 
Jakarta:
Perilaku bullying atau perundungan yang cukup sering terjadi pada anak-anak tentu tidak dapat hilang dalam waktu singkat. Orang tua, sebaiknya tidak meremehkan dampak perilaku bullying ini baik bagi korban atau pelaku bullying itu sendiri.
 
Menurut data yang dilansir KPAI pada Mei 2018, setidaknya ada sekitar 26 ribu kasus bullying dari periode 2011 hingga 2017, dengan 3 ribu kasus bullying setiap tahun dan 358 kasus setiap bulannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Orang tua sebaiknya perlu mengamati apakah anak mereka menjadi korban bullying. Menurut Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, ada beberapa cara untuk mendeteksi anak terkena bullying.
 
"Munculnya perubahan perilaku ke arah negatif, mudah takut, menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan minat atau enggan melakukan hobi atau aktivitas kesukaannya, menolak pergi ke sekolah, kesulitan tidur merupakan ciri-ciri anak yang terkena bullying," ujar Jane pada acara  acara Menyambut Hari Anak Nasional.
 
Dampak bagi korban bullying sendiri untuk jangka pendek di antaranya adalah syok, cedera fisik (jika terkena bullying fisik), takut dan merasa tidak aman, cemas saat harus berpapasan atau berinteraksi dengan pelaku bullying.
 
Dampak bagi Anak yang Menjadi Korban Bullying
Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya (kanan). Foto: Raka/Medcom.id.
 
"Sedangkan dampak jangka panjang bagi korban bullying di antaranya, konsep diri menjadi negatif, penurunan nilai akademis, menurunnya motivasi belajar, kecemasan, menutup diri dari pergaulan, depresi, bahkan bisa sampai bunuh diri," terang Jane.
 
Namun ada beberapa cara untuk mengatasi terjadinya bullying, di antaranya yaitu dengan memberikan edukasi mengenai konsep bullying pada anak. Selain itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sebaiknya tidak melibatkan kekerasan baik verbal maupun fisik, namun bukan berarti permissive.
 
Orang tua juga bisa mengekspresikan kasih sayang baik itu secara verbal, gesture, atau tindakan dan penerimaan kepada anak. Menjalin komunikasi terbuka dan meluangkan waktu rutin untuk melakukan sharing session dengan anak juga penting dilakukan oleh orang tua.
 
"Diharapkan, orang tua juga bisa menjadi pendengar yang baik dengan tidak memotong atau menganggap cerita anak tidak penting. Sementara untuk pelaku, pastikan mereka mengetahui bahwa perilaku mereka yang tidak dapat diterima bukanlag pribadi mereka," tukas Jane.
 
Jangan Bully Aku

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif