Survei: Banyak Pria Memilih Bercerai ketika Istri Selingkuh

Sri Yanti Nainggolan 05 Juni 2018 11:52 WIB
survei
Survei: Banyak Pria Memilih Bercerai ketika Istri Selingkuh
(Foto: Shutterstock)
Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa pria cenderung lebih sulit memaafkan pasangan mereka yang bersikap tak setia. 

Hall Brown Family Law melakukan sebuah penelitian untuk melihat pola perilaku yang dapat berujung pada perceraian, dimana berujung pada kesimpulan tentang dampak perzinaan pada kebahagiaan pernikahan. 

Penelitian tersebut menemukan bahwa sepertiga perceraian terjadi ketika pria dan wanita telah memaafkan kesalahan satu sama lain di masa lalu, tetapi pada akhirnya kehabisan kesabaran. 


Beberapa kesalahan tersebut adalah perzinaan, masalah keuangan, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 

Ellen Walker, pengacara dari Hall Brown Family Law menyatakan bahwa wanita lebih mungkin mencoba menyelamatkan perkawinan yang rusak daripada pria, meskipun pasangan mereka tak setia. 

"Kami terkejut sekali melihat kemampuan beberapa pria dan wanita untuk hampir menutup mata terhadap kesalahan perilaku pasangan mereka," katanya.

Namun, ia menambahkan, kasus-kasus yang mereka tangani menggambarkan berapa banyak orang dalam situasi tersebut kehabisan kesalahan dan sulit untuk mengabaikan hal tersebut pada akhirnya. 

"Mereka diberitahu oleh teman atau kerabat tentang sesuatu yang sudah mereka tahu, atau kesulitan finansial yang berdampak pada bisnis dan urusan rumah."

Di sisi lain, kemungkinan pria yang mentolerir ketidakjujuran istri mereka jauh lebih rendah daripada sebaliknya.

Office for National Statistics menunjukkan bahwa alasan para pria meminta cerai karena kesalahan istri mereka meningkat lebih dari 30 persen. 

Sementara, alasan mengapa pria dan wanita bersedia memberi kesempatan kedua pada pernikahan adalah anak-anak. 

"Boleh dibilang faktor utama untuk tetap bersama adalah demi anak-anak mereka," jelasnya.

"Begitu anak-anak itu meninggalkan rumah, sejumlah orangtua yang tidak bahagia memutuskan untuk memanfaatkan apa yang mereka anggap sebagai kesempatan untuk meninggalkan pernikahan yang bermasalah."





(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id