Mengenal Era Exponential Leader
Public Training Exponential Leader. Foto: Dok. Kubik Leadership
Jakarta: Belakangan ini banyak dijumpai perusahaan hebat yang terus naik revenuenya, begitu juga dengan Price Book Value (PBV), financial yang sehat, cabang, dan karyawannya makin banyak. Namun, tak sedikit pula perusahaan yang gulung tikar.

Bahkan perusahaan dunia seperti Toys R US, Kodak, Disc Tara, Payless Gymboree pun bangkrut. Hal ini akibat terjadinya gelombang perubahan yang sangat besar.

Hal tersebut dikatakan oleh Praktisi SDM dari Kubik Leadership, Jamil Azzaini pada saat menjadi pembicara dalam Public Training Exponential Leader yang dilaksanakan pada 2 Mei 2018, di Aston Priority, Simatupang, Jakarta Selatan. Acara tersebut diikuti 170 peserta yang terdiri dari 26 persen CEO dan 44 persen manager.


Pada kesempatan tersebut, Jamil menjelaskan, peristiwa runtuhnya perusahaan tersebut ditandai dengan adanya revolusi teknologi digital, atau yang dikenal dengan Internet of Things (IoT). Di samping itu, preferensi pelanggan pun berubah drastis, mereka ingin lebih cepat, murah dan aman.

"Selain ritel, industri lainnya pun akan berdampak, seperti perbankan. Terbukti dengan tutupnya kantor cabang beberapa bank nasional dan meniadakan fungsi teller, business remittance dan pembayaran akan pindah, kredit juga akan beralih," imbuhnya.

Industri pendidikan pun juga akan terpengaruh, contohnya kampus yang mulai digantikan online learning. Perguruan tinggi di Inggris dan Amerika Serikat bisa bertahan karena mahasiswa yang datang dengan beasiswa yang berasal dari negara berkembang. 

Begitu pula dengan bisnis transportasi yang mengalami disrupsi, terutama taksi. Berdasarkan pernyataan Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan, jumlah perusahaan taksi turun drastis. Dari 35 perusahaan di Jakarta, kini hanya tinggal empat yang masih aktif mengoperasikan armadanya, karena kalah bersaing dengan transportasi online. 
Pelanggan menjadi pihak yang paling beruntung karena dimudahkan dalam memesan transportasi, dengan harga yang lebih murah, dan kenyamanan.

Jamil menilai, kunci agar bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan besar adalah dengan membaca situasi secara cepat dan segera melakukan perubahan. Dia mencontohkan, tahun 2000 ketika Yahoo masih berjaya dan pernah merasakan valuasi USD125 miliar. Namun saat  diakuisisi Verizon 17 tahun, setelahnya pasrah dengan harga USD5 miliar.

"Hal itu karena momentum telah lewat. Untuk itu seorang pemimpin harus peka dan cepat mengambil keputusan, membuat terobosan dan tidak lupa membangun tim agar mindsetnya berubah menjadi digital mindset dan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan. Kini, tanpa disadari kita telah masuk ke era exponential leader," jelas Jamil dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Jamil hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di era exponential ini. Pertama, untuk perusahaan yang sudah memiliki ekosistem dan teknologi besar, akan merajai industrinya. Seperti halnya yang terjadi pada April lalu, saat Uber di ambil alih Grab. 
"Kemudian kedua yang masih lebih baik, terpaksa harus bekerja sama dengan saingan yang telah menggerogoti bisnis kita, seperti Blue Bird dengan gojek," kata dia.

Seorang exponential leaders akan menikmati pertumbuhan bisnis exponential, keuntungan pun bisa berpuluh, beratus bahkan beribu kali lipat dengan jumlah nominal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Untuk diketahui, Public Training Exponential Leader membahas secara tuntas era exponential, lengkap dengan prinsip penting yang harus dimiliki seorang leader dan senjata rahasia yang harus dijalankan agar mendapatkan keuntungan exponential yang tidak terbayangkan sebelumnya.



(ROS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360