Mitos Seputar Perselingkuhan yang Tak Usah Anda Percaya

Raka Lestari 11 Januari 2018 17:28 WIB
selingkuh
Mitos Seputar Perselingkuhan yang Tak Usah Anda Percaya
Ada banyak penyebab yang menjadi pemicu timbulnya perselingkuhan (Foto:Getty Images)
Jakarta: Sangat mudah untuk menyalahkan pasangan Anda, terutama jika mereka adalah orang yang pertama kali memulai perselingkuhan. Namun terkadang, perselingkuhan terjadi bukan semata akibat kesalahan pihak yang melakukan perselingkuhan.

Ada banyak penyebab yang menjadi pemicu timbulnya perselingkuhan. Dan berikut ini adalah beberapa mitos mengenai perselingkuhan yang tak selalu benar dan sebaiknya tidak perlu Anda percaya, menurut Rider's Digest.

1. Perselingkuhan terjadi dalam hubungan yang tidak harmonis


Hubungan yang benar-benar sehat dan bahagia sama rentannya dengan hubungan yang bermasalah. Ada banyak alasan untuk selingkuh, dan tidak melulu terkait hubungan yang tak berjalan lancar.

"Hubungan bisa menjadi sangat hambar dan biasa sehingga seseorang membutuhkan tantangan dalam hidupnya. Mereka membutuhkan sesuatu pemicu untuk merasakan kegairahan," kata Foojan Zeine, PsyD seorang terapis pernikahan dan terapis keluarga di Tarzana, California.


2. Sekali berselingkuh, selamanya akan berselingkuh

Melakukan perselingkuhan mungkin menjadi sebuah kesalahan yang pernah dilakukan seseorang. Tetapi bukan berarti orang tersebut akan terus mengulangi berselingkuh.

"Merasakan penyesalan yang tulus menjadi indikator yang baik tentang apakah seseorang benar-benar berkomitmen untuk mengatasi alasan perselingkuhan, dan pada akhirnya mengubah perilaku ini," kata Dr. Tasso. Yang dibutuhkan hanyalah komunikasi terbuka, jujur, menunjukkan penyesalan, dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.


3. Perselingkuhan menyebabkan hancurnya hubungan

Ada sejumlah pasangan yang hubungannya berakhir setelah terjadi perselingkuhan. Namun, perselingkuhan tidak selalu menjadi akhir segalanya dalam sebuah hubungan. Sebaliknya, perselingkuhan bisa membuat ikatan pasangan lebih kuat daripada sebelumnya.

"Perselingkuhan bisa membuat satu sama lain menjadi saling introspeksi diri," kata Dr. Tasso. Dengan sedikit dedikasi, kejujuran, dan pengabdian antara kedua pasangan, pasangan dapat menciptakan kembali ruang positif untuk hubungan yang lebih sehat dan bahagia.


4. Pria lebih sering berselingkuh daripada wanita

Sebuah penelitian dari University of Washington menemukan tingkat kesetiaan pada wanita hanya berkisar pada 5-15 persen,  sedangkan pada pria meningkat dari sekitar 20 menjadi 28 persen dari tahun 1991 hingga 2006.


5. Anda tidak pernah bisa mempercayai pasangan yang selingkuh

Mungkin Anda akan sulit mempercayai pasangan Anda setelah ia melakukan perselingkuhan, namun bukan berarti pasangan Anda tidak bisa memperbaiki apa yang telah rusak.

"Begitu pasangan memahami masalah hubungan masing-masing, dan pelaku perselingkuhan menyesali perbuatannya, mungkin Anda bisa mempercayainya lagi," ujar Dr. Tasso. Terkadang proses pemulihan kepercayaan bisa menghasilkan hubungan yang lebih kuat daripada sebelumnya.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id