Indonesia Belum Punya Konsep Rehabilitasi yang Baik untuk Anak (Foto: gettyimages)
Indonesia Belum Punya Konsep Rehabilitasi yang Baik untuk Anak (Foto: gettyimages)

Indonesia Belum Punya Konsep Rehabilitasi yang Baik untuk Anak

Rona keluarga tumbuh kembang anak
Sunnaholomi Halakrispen • 04 Mei 2019 14:56
Jakarta: Permasalahan kekerasan pada anak masih terjadi, bahkan yang dilakukan oleh antar anak. Pada kejadian seperti itu, sering kali anak dimarahi atau setidaknya ditegur sedikit keras.
 
Amarah atau teguran yang terlontar biasanya dilakukan sebagai efek jera agar anak tidak melakukan tindak kekerasan atau kesalahan lainnya. Namun, keputusan tersebut bukanlah tindakan yang tepat.
 
"Dia (anak yang bersangkutan) dihargai sebagai manusia walaupun telah melanggar hukum," ujar Pemerhati Masalah Anak sekaligus Ketua Yayasan Bahtera, Hadi Utomo, di Hotel Salak Tower, Bogor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada dasarnya, anak belum begitu memahami seberapa besar dampak dari tindakan yang dilakukan. Mereka tidak berharap melanggar hukum dan ingin tetap diperlakukan layaknya anak tanpa dihakimi atas perbuatannya.
 
Maka dari itu, rehabilitasi kepada anak perlu dilakukan dengan tepat untuk selanjutnya dapat membentuk karakter anak yang diharapkan. Sayangnya, kata Hadi, belum ada konsep yang tepat dalam proses rehabilitasi anak.
 
"Indonesia masih belum mempunyai konsep rehabilitasi yang baik untuk anak. Setidaknya ada tiga lembaga negara yang berkewenangan menangani masalah anak, yakni Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, dan Badan Narkotika Nasional, (BNN)" paparnya.
 
Setidaknya ketiga lembaga itu harus ada dalam proses rehabilitasi anak, bersinergi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Hadi menilai bahwa hingga saat ini permasalahan terkait perlindungan anak memang belum difokuskan negara.
 
"Perlindungan anak belum menjadi prioritas. Maka jumlah pelaku sodomi serta kekerasan psikis dan psikologi anak lainnya, bisa semakin meningkat," tuturnya.
 
Untuk menangani hal tersebut, tidak bisa dilakukan proses rehabilitasi hanya dari satu pihak. Setidaknya, kata Hadi, sejumlah pihak turut berperan, di antaranya pekerja sosial, Kemenkes, Kemensos, BNN.
 
Selain itu, pendamping baik dari pihak keluarga maupun dari orang tua asuh. Banyaknya pihak yang terlibat membantu anak pada fokus masing-masing, yakni ada yang fokus pada pembentukan mental anak, ada yang fokus memberikan bimbingan skill anak dalam hal olahraga, sosial, juga budaya.
 
"Tidak cukup jika hanya dengan psikolog untuk merehabilitasi kognitif anak yang mengalami rusak total. Anak tidak mudah lupa bahkan tidak akan melupakan bayangan peristiwa kekerasan yang menimpanya," pungkas Hadi.
 
 
 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif