Tips Mendisiplinkan Balita
Usia belita merupakan tahap di mana anak ingin mengetahui respons orang lain terhadapnya. (Foto: Alyssa Stevenson/Unsplash.com)
Jakarta: Mendidik anak pada usia di bawah lima tahun (balita) memiliki tantangan tersendiri. Ia kerap berulah dan melakukan hal sesukanya.

Mungkin bagi sebagian orang hal ini bisa membuat kesal. Apalagi anak usia balita sulit diajak kompromi, sulit diatur.

Tak terbendung, banyak orang tua memperingati balita yang bertingkah dengan cara membentak. Atau yang lebih parah sampai memukul balita.


Meski begitu, usia belita merupakan tahap di mana anak ingin mengetahui respons orang lain terhadapnya. Ketimbang membentak anak, lebih baik ikuti tiga tips mendisiplinkan anak usia balita dilansir Parents berikut.


(Mendidik anak pada usia di bawah lima tahun (balita) memiliki tantangan tersendiri. Ia kerap berulah dan melakukan hal sesukanya. Foto: Mike Fox/Unsplash.com)

(Baca juga: Momen Perkembangan Bayi yang Menggemaskan)

1. Jangan emosional
Kesal dengan tingkah balita yang sulit diatur? Tentu saja, itu manusiawi. Tapi jangan sampai membentak balita. Kata William Coleman, professor of pediatrics dari the University of North Carolina Medical School, membentak anak justru membuat balita semakin membangkang. 

"Reaksi marah hanya akan meningkatkan nilai hiburan bagi anak Anda," kata Coleman. Ketimbang membentak, Coleman menyarankan untuk mengajari balita dengan cara yang tegas. Tatap matanya dan berikan mimik wajah yang serius.

3. Berikan sebab dan akibat
Mungkin Anda sering mendapatkan balita tidak mengikuti aturan yang sudah diterapkan di rumah. Seperti suka membolos ketika disuruh menggosok gigi sebelum tidur.

Aturan memang baik buat Anak. Tapi lebih baik berikan sebab akibat dari aturan tersebut. Misalnya, sikatlah gigi sendiri, atau Anda yang akan menyikat giginya.

3. Tetap berpikir positif
Bagaimanapun frustasinya Anda ketika mengatur balita, jangan sekalipun mengeluhkan sikapnya dihadapan orang lain. Hal itu justru akan berdampak buruk pada citra anak, ketika ia mendengarnya.

"Ibarat kata, seperti bos yang mengeluhkan tentang kemampuan anak buahnya membangun perusahaan," kata Coleman.

Tetap saja, sangat normal untuk merasa jengkel. Jika Anda mencapai titik itu, komunikasikam ke pasangan Anda, dokter anak, atau teman tepercaya. Mintalah untuk mendapat dukungan dan saran.






(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id