Dampak Negatif Memisahkan Anak-anak dari Ibunya
Dr Larkin menyebut situasi anak yang jauh dari ibunya sebagai "Adverse Childhood Experiences (ACE)" atau pengalaman masa kecil yang merugikan. (Foto: Nuno Alberto/Unsplash.com)
Jakarta: Pada dasarnya anak-anak sebaiknya selalu berada di dekat dengan orang tua terutama ibu kandung mereka, namun ada beberapa hal yang mengharuskan anak-anak terpisah dari ibu kandung mereka sendiri.

Beberapa kondisi seperti misalnya karena masalah perceraian, karena sebuah tugas yang mengharuskan mereka tak bersama, atau bahkan bencana alam. Dan tentu hidup secara terpisah dari ibu mereka dapat membuat mereka merasa kesulitan.

"Dan kesulitan yang terakumulasi yang dialami anak-anak ini akan memiliki efek serius jangka panjang," kata Heather Larkin, PhD, seorang Associate Professor di bidang Kesejahteraan Sosial di Universitas di Albany dan Co-Director dari National Centre for Excellence di Homeless Services, kepada Romper.


Dr Larkin menyebut situasi ini sebagai "Adverse Childhood Experiences (ACE)" atau pengalaman masa kecil yang merugikan.

(Baca juga: 7 Cara Bijak Bicarakan Perceraian dengan Anak)


(Dokter anak dan psikolog mengatakan bahwa situasi anak yang jauh dari ibu akan memiliki konsekuensi neurobiologis yang berdampak panjang pada anak-anak. Foto: Davor Denkovski/Unsplash.com)

"Sejumlah besar penelitian tentang ACE mengungkapkan hubungan yang kuat antara akumulasi kesulitan pada masa anak-anak, termasuk kehilangan orang tua, dapat menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang serius di masa mendatang," jelas Dr Larkin. 

"Ini termasuk segala sesuatu dari depresi berat, kecemasan, dan penyalahgunaan zat hingga peningkatan kemungkinan tertular penyakit menular seksual atau pernikahan dini. Hal tersebut bahkan dapat berkaitan dengan berbagai jenis kanker dan kematian dini."

Dokter anak dan psikolog mengatakan bahwa situasi yang merugikan ini akan memiliki konsekuensi neurobiologis yang berdampak panjang pada anak-anak.  

"Tubuh anak melepaskan luapan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon stres itu dapat mulai membunuh dendrit atau cabang kecil di sel otak yang mengirimkan pesan. Lambat laun, stres dapat mulai membunuh neuron dan menimbulkan kerusakan dramatis dan jangka panjang, baik secara psikologis maupun struktur fisik otak terutama pada anak-anak," tulis The Washington Post.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id