Selain meningkatkan rasa percaya diri, mengasuh anak bersama-sama menimbulkan hubungan keluarga yang bertumbuh dan menjadi dewasa bersama. (Foto Ilustrasi: Public Domain Picture/Pexels)
Selain meningkatkan rasa percaya diri, mengasuh anak bersama-sama menimbulkan hubungan keluarga yang bertumbuh dan menjadi dewasa bersama. (Foto Ilustrasi: Public Domain Picture/Pexels)

Manfaat Saling Berkontribusi Merawat Anak

Rona tumbuh kembang anak
Dhaifurrakhman Abas • 02 Juni 2019 11:06
Ketika telah berpasangan dan memiliki anak, kadang ayah gamang akan posisi barunya tersebut. Sehingga butuh dorongan dari sang istri untuk membangunnya agar kepercayaan diri merawat anak muncul.
 
Jakarta: Perubahan sikap kerap terjadi pada sorang pria usai menikah. Mereka biasanya akan lebih dewasa dan menyingkirkan sifat egoisnya.
 
Begitupun ketika pria memiliki anak pertama mereka. Kebanyakan sifat pria berubah menjadi gamang yang disebabkan peran baru sebagai "ayah" yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut studi dari jurnal Family Process, dibutuhkan sikap kepercayaan diri pada pria agar rasa gamang itu berlarut hilang. Rasa percaya diri bisa dibentuk dengan sendirinya. Tapi yang paling ampuh adalah ketika rasa itu diberikan langsung oleh istri mereka.
 
"Seorang ayah cenderung merasa lebih dekat dengan pasangannya, baik sebagai orang tua, maupun sebagai pasangan romantis, ketika dia dipercaya merawat anak mereka oleh sang istri," kata Anna Olsavsky, penulis utama studi dari The Ohio State University.
 
Menurut Olavsky, salah satu cara menghilangkan rasa gamang tersebut adalah dengan membiarkan pria ambil andil dalam merawat dan mengasuh anak. Misalnya dengan membiarkan pria memandikan bayi mereka.
 
"Minta peran ayah agar lebih terlibat melakukan metode mengasuh anak," ujar Olsavsky.
 
Selain meningkatkan rasa percaya diri, mengasuh anak bersama-sama menimbulkan hubungan keluarga yang bertumbuh dan menjadi dewasa bersama. Saling berkontribusi juga membuat pasangan suami istri saling menghargai dan memahami peran sosial yang dijalankan.
 
"Mereka menjadi saling tahu bagaimana sulitnya menjadi ibu dan menjadi ayah. Sebab perasaan mereka ini tumbuh dan menjadi dewasa bersama melalui pengalaman sebagai orang tua," beber dia.
 
Sayangnya, banyak para ibu masih memandang dirinya sebagai pengasuh anak alami dan yang paling ahli. Hal ini tak lepas dari kepercayaan yang selama ini beredar di masyarakat.
 
"Jadi, bagaimana para ibu bereaksi terhadap masalah pengasuhan pasangan mereka. Ini sangat memengaruhi perasaan baru ayah tentang seluruh keluarga mereka," kata dia.
 
Hal ini mengakibatkan pria menutup diri dan berubah sikap. Saat ini pula para pria mulai merasa kehilangan hubungan romantis dengan keluarga baru mereka. Kata Olsavsky, ini terjadi karena istri terlalu sibuk mengasuh anaknya sendiri tanpa percaya pada kontribusi pasangan pria.
 
"Para ayah melaporkan betapa mereka merasa pasangan mereka membuka atau menutup gerbang pada mereka ketika harus berinteraksi dengan bayi itu," beber dia.
 
Olsavsky menjelaskan, ada asumsi mendasar bahwa ibu adalah ahli dalam hal mengasuh anak. Begitupun kepercayaan masyarakat. Namun, hal yang paling baik adalah mendobrak kepercayaan yang ada selama ini. Yaitu ketika ayah dan ibu berperan bersama dan berkontribusi dalam mengasuh anak mereka.
 
"Ayah umumnya tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat. Satu-satunya dukungan yang sering mereka dapatkan sebagai orang tua adalah dari pasangan mereka. Itulah mengapa ini sangat penting," tandasnya.
 
Cerdas Menjaga Tumbuh Kembang Si Kecil

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif